BNPB: Korban Tragedi Ponpes Sidoarjo Lebih Banyak dari Bencana Alam di 2025
JAKARTA, sustainlifetoday.com — Pemerintah pusat memberikan perhatian serius terhadap insiden ambruknya bangunan Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny di Sidoarjo, Jawa Timur, yang menelan puluhan korban jiwa. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut jumlah korban dalam tragedi tersebut bahkan lebih banyak dibandingkan sejumlah bencana alam sepanjang tahun 2025.
“Kami baru saja dibisiki oleh Kapusdatinkom (Abdul Muhari) bahwa korban kali ini di sepanjang tahun 2025, ini adalah korban yang cukup besar menurut BNPB,” ungkap Deputi Bidang Penanganan Darurat BNPB, Budi Irawan, dalam konferensi pers pembaruan bencana non-alam akibat bangunan roboh di Ponpes Al Khoziny, Senin (6/10).
Ia menambahkan, jumlah korban pada peristiwa ini jauh lebih banyak dibandingkan kejadian bencana alam lain seperti gempa bumi maupun banjir bandang yang terjadi beberapa waktu lalu.
“Termasuk banjir bandang di Bali semuanya korbannya hanya sedikit. Ini adalah korbannya cukup banyak, jadi 50 orang meninggal,” tegasnya.
Budi menyebut Kepala BNPB Suharyanto telah memberikan perhatian penuh terhadap tragedi tersebut atas instruksi langsung Presiden Prabowo Subianto.
Baca Juga:
- BNPB: Musim Hujan 2025/2026 Datang Lebih Awal dan Berdurasi Panjang
- Puluhan Pasar Tradisional Jakarta Utara Belum Patuh Aturan Lingkungan
- DLH DKI Kerahkan 2.100 Petugas Kebersihan untuk Kawal HUT ke-80 TNI
“Jadi Bapak Kepala BNPB (Suharyanto) sangat memberikan atensi atas perintah dari bapak presiden Prabowo Subianto,” pungkasnya.
Insiden memilukan itu terjadi pada Senin (29/9) sore ketika gedung tiga lantai yang juga digunakan sebagai musala di Ponpes Al Khoziny, Buduran, Sidoarjo, tiba-tiba ambruk saat ratusan santri tengah menunaikan salat Ashar berjemaah. Gedung tersebut diketahui masih dalam tahap pembangunan.
Presiden Prabowo Subianto turut memerintahkan langkah cepat untuk mengevaluasi seluruh pondok pesantren di Indonesia dari sisi keselamatan bangunan. Persoalan ini dibahas dalam rapat terbatas di kediaman Presiden di Jalan Kertanegara, Jakarta, Minggu (5/10) malam.
“Presiden memerintahkan Menko Pemberdayaan Masyarakat Muhaimin Iskandar beserta jajaran kementeriannya untuk memeriksa sekaligus memperbaiki pondok pesantren resmi yang perlu dicek kekuatan struktur bangunannya, serta memberikan bantuan dan menekankan kepada pemilik pondok untuk memperhatikan betul proses renovasi atau pengembangan gedung bila hendak membangun pondoknya,” kata Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya.
Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi turut menegaskan bahwa tragedi tersebut menjadi perhatian khusus pemerintah.
“Beliau memonitor terus, makanya Beliau kemudian memerintahkan kepada para menteri terkait, dan gubernur, wakil gubernur untuk memberikan perhatian,” ujar Prasetyo.
Ia menambahkan, langkah ke depan bukan sekadar pemeriksaan insidental, melainkan evaluasi menyeluruh terhadap infrastruktur pendidikan berbasis pesantren di seluruh Indonesia.
“Evaluasi ke depan semua pondok pesantren kami harapkan segera didata dan dipastikan keamanan dari sisi bangunan-bangunan, infrastruktur di pondok (pesantren) masing-masing,” sambungnya.
