BRIN Siapkan Lima Teknologi Hadapi Banjir Rob yang Kian Masif di Pantura
Jakarta, sustainlifetoday.com – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyiapkan lima teknologi untuk menghadapi banjir rob yang kian masif di kawasan Pesisir Utara Jawa (Pantura). Langkah ini menjadi bagian dari upaya memperkuat perlindungan wilayah pesisir yang semakin rentan akibat kenaikan muka air laut, abrasi, hingga dampak perubahan iklim.
Kepala BRIN, Arif Satria menyebutkan teknologi tersebut meliputi tanggul tegak modular multifungsi dan blok modular beton, yang dirancang sebagai pelindung pantai sekaligus memiliki nilai tambah. Tanggul disebut mampu menyerap energi gelombang sekaligus dimanfaatkan sebagai jalur transportasi.
Selain itu, BRIN juga mengembangkan unit lapis lindung breakwater dengan sistem saling mengunci otomatis yang dinilai lebih stabil dan efisien untuk perlindungan pesisir.
Menurut Arif, unit lapis lindung ini sudah diterapkan di 11 daerah. Terakhir pada 2025 dikembangkan di Nusa Penida, setelah sebelumnya digunakan di Pacitan, Sanur, Tuban, dan Nias.
“Jadi ini adalah bentuk teknologi yang saya kira sangat penting karena memiliki stabilitas tinggi, lebih ekonomis dan juga produksinya lebih sederhana,” ungkap Arif dalam keterangannya, Rabu (6/5).
BRIN juga menghadirkan platform arus laut yang memungkinkan tanggul dan dermaga berfungsi sebagai pembangkit energi mandiri. Pendekatan ini dinilai dapat mendukung ketahanan energi sekaligus perlindungan pesisir secara bersamaan.
“Kita membangun tanggul sekaligus pada saat yang sama kita memanen energi arus,” imbuh dia.
BACA JUGA
- Dua Anak Harimau Sumatera Lahir di Taman Satwa Lembah Hijau Lampung
- Gubernur Pramono Teken Instruksi Pemilahan Sampah dari Rumah di Jakarta
- Lonjakan Penggunaan EV Pangkas Konsumsi Minyak Hingga 2,3 Juta Barel per Hari
Tak hanya mengandalkan pendekatan rekayasa teknis, BRIN juga mengembangkan konsep hybrid eco-engineering, yakni kombinasi teknologi dan solusi berbasis alam. Pendekatan ini diarahkan untuk membantu mereduksi gelombang, menangkap sedimen, sekaligus memulihkan ekosistem mangrove yang selama ini menjadi benteng alami kawasan pesisir.
Arif menambahkan teknologi yang dikembangkan BRIN akan diimplementasikan dengan tingkat komponen dalam negeri yang tinggi.
“Salah satu kelebihan dari teknologi ini adalah TKDN-nya (Tingkat Komponen Dalam Negeri) lebih dari 70 persen,” beber Arif.
Sementara itu, Kepala Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa (BOPPJ) Didit Herdiawan Ashaf menyatakan Presiden Prabowo Subianto meminta rencana induk perlindungan Pantura segera disusun.
Pihaknya kini bekerja sama dengan berbagai kementerian, lembaga, universitas, hingga tenaga ahli dalam penyusunan rencana induk penataan Pantura, termasuk pemanfaatan teknologi untuk menghadapi ancaman rob yang terus meningkat.
“Untuk teknologi kami dibantu oleh BRIN. Dengan teman-teman dari BRIN, sudah kami bicarakan lebih dari enam bulan bagaimana teknologi yang digunakan. Ada yang digunakan dari Indonesia sendiri, dari dalam, maupun ada yang dari luar,” ucap Didit.
