Cuaca Indonesia Terasa Sangat Panas, Ini Penjelasan BMKG
JAKARTA, sustainlifetoday.com — Beberapa hari terakhir, masyarakat di berbagai daerah Indonesia merasakan suhu panas yang menyengat, dengan suhu maksimum mencapai 35 hingga 36,6 derajat Celsius. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan: apakah suhu panas ekstrem ini masih tergolong normal?
Berdasarkan pantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada 13–14 Oktober, sejumlah wilayah Indonesia tercatat mengalami suhu maksimum hingga 36,6°C. Fenomena ini, menurut BMKG, disebabkan oleh pergeseran posisi semu Matahari ke selatan Indonesia.
“Saat ini kenapa terlihat sangat panas? Karena di sisi selatan, Matahari sekarang itu udah bergeser, di posisi di selatan wilayah Indonesia,”
ujar Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto, dikutip dari Detik pada Kamis (16/10).
Pergeseran posisi Matahari ini berdampak pada berkurangnya pertumbuhan awan hujan, terutama di wilayah selatan. Tanpa tutupan awan, sinar Matahari langsung menyentuh permukaan Bumi, membuat suhu terasa lebih terik dari biasanya.
“Dan ini juga menyebabkan pertumbuhan awan hujan itu juga sudah jarang di wilayah selatan. Sehingga inilah yang terasa panas, tidak ada awan yang menutup sinar Matahari langsung,” tuturnya.
Meski terasa menyengat, BMKG memastikan bahwa kondisi suhu di Indonesia masih tergolong normal selama berada di kisaran 31–34 derajat Celsius.
“Jadi gini, temperatur kota itu idealnya kan rata-ratanya suhu maksimum ya kita di Indonesia itu, itu 31-34 masih normal,” terang Guswanto.
Baca Juga:
- BPS Siapkan KBLI Khusus Perdagangan Karbon untuk Dorong Ekonomi Hijau
- Kurangi Pencemaran, Pemprov DKI Gratiskan Layanan Angkut Sampah Besar
- Menag Nasaruddin Umar: Menjaga Lingkungan Adalah Zikir Sosial
BMKG juga menegaskan bahwa Indonesia tidak sedang mengalami gelombang panas (heatwave) seperti yang terjadi di beberapa negara subtropis.
“Suhu di Indonesia masih dalam batas wajar, walaupun terasa tidak nyaman,” kata BMKG dalam unggahannya di Instagram.
Namun, masyarakat diimbau untuk tetap waspada terhadap risiko dehidrasi, paparan sinar UV, dan potensi kebakaran lahan di daerah kering. Cuaca panas ini diperkirakan masih akan berlangsung hingga akhir Oktober atau awal November 2025, tergantung waktu masuknya musim hujan di masing-masing wilayah.
Menurut BMKG, ada tiga faktor utama yang menyebabkan suhu terasa sangat panas belakangan ini:
- Posisi semu Matahari – saat ini berada di sekitar ekuator, menyebabkan wilayah Indonesia bagian tengah dan selatan menerima penyinaran paling intens.
- Angin timuran dari Australia – membawa massa udara kering yang menghambat pembentukan awan.
- Minimnya tutupan awan – membuat sinar Matahari langsung memancar ke permukaan Bumi tanpa penghalang.
