Ternyata ASI Lebih Ramah Lingkungan Dibanding Susu Formula
Jakarta, sustainlifetoday.com – Pekan Menyusui Dunia atau Pekan ASI Sedunia (World Breastfeeding Week) kembali diperingati pada 1–7 Agustus 2025 dengan tema “Prioritise Breastfeeding” atau “Prioritaskan Menyusui.” Tahun ini, kampanye global tersebut menyoroti hubungan erat antara praktik menyusui, pelestarian lingkungan, dan upaya mitigasi perubahan iklim.
Dalam webinar bertajuk “Prioritaskan Menyusui: Membangun Sistem Dukungan Berkelanjutan” yang digelar secara daring pada Selasa (29/7), para pembicara menekankan pentingnya membangun sistem pendukung yang berkelanjutan bagi ibu menyusui, tidak hanya untuk kesehatan masyarakat, tetapi juga untuk kelestarian lingkungan hidup.
Ketua Umum Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) Pusat, Nia Umar, menjelaskan bahwa menyusui tidak hanya menyehatkan ibu dan bayi, tapi juga memiliki manfaat ekologis yang signifikan.
“Menyusui tidak menimbulkan limbah apa pun dan tentunya mendukung pembangunan yang diperlukan,” ujar Nia.
Ia menyoroti bahwa saat ini banyak kerusakan lingkungan yang merupakan dampak dari perilaku konsumtif manusia, termasuk dalam hal pola konsumsi makanan bayi.
“Karena kita banyak melakukan tindakan-tindakan yang kita pikir sangat egois, yang buat diri kita sendiri saat ini paling aman, padahal ternyata memberikan dampak negatif buat lingkungan. Termasuk dalam hal ini (menyusui), misalkan tidak memprioritaskan menyusui yang jelas-jelas tidak memiliki limbah apa pun,” lanjutnya.
Baca Juga:
- Afghanistan Minta Dilibatkan dalam COP30, Taliban: Kami Korban Krisis Iklim
- Dukung Transisi Hijau, Lippo Malls Indonesia Maksimalkan Energi Surya
- Indonesia Siap Luncurkan NDC 3.0 Jelang COP30, Fokus pada Transisi Hijau
Produksi susu formula disebutnya sebagai rantai industri yang kompleks dan penuh emisi, mulai dari peternakan sapi, pengolahan, hingga distribusi.
“Dari susu sapi yang diambil di peternak, dikumpulin dulu, misalkan dikoperasi susunya, lalu dibawa pakai transportasi. Pasti dikumpulkan pakai chiller, pakai kulkas yang membutuhkan listrik. Pembawa susunya pakai bahan bakar untuk membawa ke pabrik, sampai di pabrik diolah yang butuh bahan bakar dan pasti ada limbahnya. Di situ sudah menimbulkan limbah lagi,” ujar Nia.
Tak hanya limbah dari proses industri, produk susu formula juga memicu timbulan sampah dari kemasan berbahan plastik, kardus, atau kaleng.
“Sedangkan kalau menyusui, tinggal buka baju ibunya aja, nggak pakai sepanjang itu proses produksinya. Jadi jelas menyusui itu tidak memiliki limbah apa pun,” ia menjelaskan.
AIMI mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk lebih mendukung kebijakan dan program pro-menyusui, sekaligus menjadikannya bagian dari strategi pelestarian lingkungan. Organisasi ini juga mendorong penganggaran khusus, monitoring ketat, serta evaluasi berkelanjutan agar sistem pendukung menyusui lebih solid.
“Menyusui itu baik untuk lingkungan, mengurangi limbah, dan juga mengurangi konsumsi makanan-makanan ultra proses atau artifisial.”
AIMI juga menyebutkan bahwa isu menyusui dan lingkungan akan masuk dalam agenda World Health Assembly mendatang, menunjukkan bahwa isu ini tak lagi sebatas kesehatan, tetapi juga bagian dari kebijakan lingkungan global.
