Cegah Krisis Air Akibat Infrastruktur AI, Pakar UNAIR Dorong Efisiensi dan Air Daur Ulang
Jakarta, sustainlifetoday.com – Pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) berbanding lurus dengan peningkatan kebutuhan infrastruktur pusat data (data center) skala besar. Namun, pemrosesan komputasi intensif pada server, prosesor, dan graphics processing unit (GPU) menghasilkan panas tinggi yang membutuhkan sistem pendinginan berbasis air secara berkelanjutan. Kondisi ini berpotensi menambah tekanan terhadap ketersediaan air bersih bagi masyarakat jika tidak dikelola secara efisien.
Dosen Program Studi Teknik Robotika dan Kecerdasan Buatan, Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin Universitas Airlangga (UNAIR), Yutika Amelia Effendi, memaparkan bahwa air memiliki kapasitas penyerapan panas tinggi sehingga menjadi media utama dalam menjaga stabilitas kinerja sistem komputasi.
Meskipun demikian, Yutika mengingatkan bahwa jejak konsumsi air oleh industri AI mencakup cakupan yang sangat luas.
“Hubungan antara pusat data dan konsumsi air terjadi melalui tiga jalur utama yakni penggunaan air langsung untuk sistem pendinginan, penggunaan tidak langsung melalui pembangkitan listrik, serta air yang digunakan dalam rantai pasok manufaktur perangkat keras,” ujar Yutika, dilansir dari laman resmi UNAIR, Senin (26/10/2026).
BACA JUGA
- SustainLife Today Kembali Gelar ESG Initiative Awards 2026, Sambut Efektivitas Regulasi Baru OJK
- OJK Perketat Aturan Pelaporan 2027, Korporasi Dituntut Buktikan Dampak ESG Terukur
- Tuntutan Transparansi Menguat, Kepemimpinan Korporasi Kini Diuji Lewat Dampak ESG Terukur
Guna menekan ketergantungan pada pasokan air minum, penggunaan air daur ulang yang diolah sesuai spesifikasi teknis menjadi alternatif strategis. Yutika menegaskan bahwa perencanaan pemetaan lokasi pusat data harus mempertimbangkan daya dukung lingkungan serta ketersediaan sumber daya air setempat agar tidak menggeser hak atas air bersih warga.
“Dampaknya sangat bervariasi bergantung pada lokasi, teknologi pendinginan, dan kondisi sumber daya air setempat. Kebutuhan dasar masyarakat harus tetap menjadi prioritas utama dalam pengelolaan air,” tutur Yutika.
Langkah mitigasi dari hulu hingga hilir dapat diterapkan melalui pemanfaatan teknologi pendingin closed-loop cooling atau direct-to-chip liquid cooling, optimalisasi model komputasi, penggunaan air daur ulang, serta pemilihan lokasi fasilitas komputasi yang presisi berbasis pasokan air lokal.
BACA JUGA
- Jerat 29 Ribu Hektare Lahan Terbakar, Bareskrim Polri Tetapkan 20 Korporasi Tersangka Karhutla
- Cetak Pertumbuhan Laba 20,7 Persen pada Q3 2026, Bank Mandiri Jaga Kualitas Aset dan Likuiditas
- Topang Ketahanan Energi, Pertamina Patra Niaga Integrasikan Diversifikasi Pasokan dan Prinsip Keberlanjutan
Di samping efisiensi di tingkat industri dan kesadaran masyarakat dalam memanfaatkan AI secara bijak, Yutika menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, pelaku industri, dan lembaga akademis untuk merumuskan standar ekosistem AI yang ramah lingkungan.
“Pemerintah dapat mendorong standar efisiensi, sementara perguruan tinggi dapat berperan melalui riset lintas bidang. AI bukan hanya teknologi yang terkendali dampaknya, namun juga dapat menjadi bagian dari solusi pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan,” ucapnya.
