WHO Peringatkan El Nino Ancam Kesehatan Global dan Picu Lonjakan Wabah
Jakarta, sustainlifetoday.com – Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menerbitkan peringatan darurat terkait ancaman serius fenomena El Niño terhadap sistem kesehatan global. Imbauan ini dirilis di saat masyarakat dunia bersiap menghadapi gelombang iklim yang diproyeksikan menjadi salah satu yang terparah dalam sejarah pencatatan atmosfer.
Pola cuaca alami yang terpicu oleh lonjakan suhu permukaan Samudra Pasifik tersebut memicu kenaikan suhu udara ekstrem, kekeringan berkepanjangan, hingga presipitasi tinggi yang memicu banjir meluas di berbagai belahan dunia, mulai dari Amerika Tengah hingga Indonesia.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menggarisbawahi bahwa tingginya curah hujan dan perubahan suhu lingkungan akibat El Niño dapat mempercepat laju transmisi penyakit menular, seperti wabah kolera, serta mempercepat siklus perkembangbiakan vektor nyamuk pembawa demam berdarah, malaria, dan chikungunya.
Kepala Unit WHO untuk Pengurangan Risiko, Operasi Kemanusiaan, dan Perubahan Iklim, Teresa Zakaria, menegaskan bahwa kerentanan tertinggi berada di wilayah dengan kesiapan infrastruktur medis yang terbatas.
“Dampak paling parah akan terjadi ketika krisis iklim menghantam wilayah dengan fasilitas kesehatan yang lemah, akses medis yang terbatas, krisis pangan, pengungsian, serta krisis kemanusiaan,” ujar Teresa Zakaria.
Teresa menyebut El Niño bukan sekadar fenomena cuaca periodik, melainkan ancaman nyata bagi kesehatan masyarakat sekaligus pemicu pelipatgandaan risiko (risk multiplier). Ia mendesak pemerintah di seluruh dunia untuk segera mengeksekusi langkah adaptasi darurat guna menekan jatuhnya korban jiwa.
“Kita masih memiliki kesempatan untuk bertindak sekarang, sebelum risiko-risiko ini berubah menjadi krisis besar,” tegasnya.
BACA JUGA
- Tekan Emisi Hingga 90 Persen, BRIN Kembangkan Teknologi Gasifikasi WtE
- Konservasi Indonesia Siapkan ‘Manta Impact Bond’ Pertama di Dunia
- Kebakaran Lahan Capsai 589 Hektare, Jalur Pendakian Torean Gunung Rinjani Ditutup Sementara
Sebelumnya pada awal September, Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) mengonfirmasi bahwa El Niño periode ini diperkirakan menjadi yang terkuat dalam empat dekade terakhir, dengan dampak turunan iklim yang berpotensi membentang hingga tahun 2027.
Meski El Niño merupakan siklus iklim alami, interaksinya dengan pemanasan global akibat emisi bahan bakar fosil memperparah intensitas gelombang panas dan cuaca ekstrem secara signifikan.
Penasihat gelombang panas ekstrem di Program Bersama Iklim dan Kesehatan WHO-WMO, Armel Castellan, menyoroti keunikan ancaman El Niño saat ini.
“Setiap peristiwa El Niño itu berbeda,” kata Armel Castellan.
“Namun, El Niño kali ini menjadi sangat unik karena terjadi bersamaan dengan suhu bumi yang sebelumnya memang sudah memecahkan rekor terpanas,” tambahnya.
