Reklamasi Lahan Bekas Tambang, BRIN Kembangkan Agribisnis Terpadu Berbasis Bioekonomi Sirkular
JAKARTA, SustainLifeToday.com — Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tengah mengkaji model agribisnis terpadu yang memadukan sektor peternakan dengan pertanian, perikanan, hortikultura, dan perkebunan di area lahan bekas tambang. Sebagai langkah awal, proyek percontohan disiapkan di Loa Kulu, Kalimantan Timur, melalui kerja sama dengan PT Bramasta Sakti untuk membangun kawasan Agro Techno Park (ATP) berbasis teknologi.
Inisiatif ini hadir di tengah mendesaknya pemulihan lingkungan di wilayah tersebut. Berdasarkan catatan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dan laporan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur per 2024, terdapat lebih dari 2.700 lubang bekas tambang yang belum direklamasi di provinsi tersebut, yang lokasinya berdekatan dengan kawasan IKN Nusantara.
Kepala Pusat Riset Peternakan ORPP BRIN, Santoso, menjelaskan bahwa pengembangan peternakan di lahan bekas tambang memerlukan pendekatan khusus yang berbeda dari lahan pertanian konvensional. Kondisi tanah, kesehatan dan produktivitas ternak, hingga kelayakan investasi harus dikalkulasi secara terintegrasi.
“Kami tidak ingin sekadar membuktikan bahwa ternak dapat dipelihara di lahan bekas tambang. Yang lebih penting adalah menentukan model seperti apa yang tepat, teknologi apa yang diperlukan, komponen apa yang harus dioperasikan, dan dalam kondisi seperti apa usaha tersebut dapat berkembang,” ujar Santoso, dikutip dari situs resmi BRIN, Senin (14/9/2026).
Santoso menambahkan, sektor peternakan harus ditempatkan dalam satu sistem yang saling menunjang bersama tanaman pakan guna menciptakan nilai tambah ekonomi yang berkelanjutan.
BACA JUGA
- PBB Peringatkan Dampak Ganda Krisis Iklim Terhadap Kualitas Udara dan Kesehatan Manusia
- KLH Dorong Industri Nikel Susun Peta Jalan NZE untuk Manfaatkan Nilai Ekonomi Karbon
- Hanya 2 Persen Terapkan ESG Global, Pemerintah Godok Panduan Ekivalensi Tambang Nasional
Senada dengan hal tersebut, Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Peternakan ORPP BRIN, Sindu Akhadiarto, menegaskan pentingnya penerapan konsep peternakan terpadu untuk memanfaatkan hasil sampingan antarproduksi. Limbah peternakan dapat diolah menjadi pupuk organik pemulih tanah, sementara tanaman kawasan dimanfaatkan kembali sebagai pakan ternak.
“Peternakan tidak hanya menghasilkan daging dan telur untuk manusia, tetapi juga menjadi mesin biologis yang mempercepat pemulihan fungsi ekonomi. Maka terjadilah konsep bioekonomi sirkular,” kata Sindu.
Ke depan, BRIN merancang ATP Loa Kulu tidak sekadar sebagai fasilitas produksi, melainkan sebagai pusat riset dan integrasi teknologi yang menghubungkan pemerintah daerah, akademisi, pelaku usaha, dan peneliti. Kawasan ini juga diarahkan menjadi destinasi agroeduwisata sekaligus contoh percontohan teknologi peternakan terpadu yang dapat direplikasi di lahan paska-tambang wilayah lainnya.
