Kemenkes Sebut Masalah Kesehatan Jiwa Siswa Melonjak Seiring Bertambahnya Usia
Jakarta, sustainlifetoday.com – Hasil analisis data Cek Kesehatan Gratis (CKG) Anak yang dihimpun Kementerian Kesehatan (Kemenkes) selama satu tahun mengungkapkan temuan krusial mengenai kesehatan mental generasi muda. Gejala masalah kesehatan jiwa terdeteksi cenderung meningkat tajam seiring bertambahnya usia peserta didik, dengan tingkat tertinggi ditemukan pada jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA).
Data ini bersumber dari analisis skrining terhadap 23,5 juta anak di seluruh Indonesia sepanjang periode Februari 2025 hingga Februari 2026.
Direktur Reconstra, Iwan Ariawan, menyampaikan bahwa gejala awal krisis kesehatan mental sudah mulai teridentifikasi sejak anak duduk di kelas 4 hingga 6 Sekolah Dasar (SD). Namun, persentasenya mengalami lonjakan signifikan saat peserta didik memasuki jenjang SMP dan SMA.
“Ini kelas 4 sampai 6 SD. Di sini sudah ada juga skrining untuk masalah kejiwaan, masalah gejala depresi dan gejala cemas. Sama ya ini baru namanya juga skrining, baru gejala kita belum sampai diagnosis, tapi ini kan perlu tatalaksana, nih. Kita sudah ketemu secara dini di sini,” ujar Iwan dalam seminar Tindak Lanjut Cek Kesehatan Gratis Anak, Kamis (13/8).
Pada kelompok kelas 4–6 SD yang mencakup 5,3 juta peserta CKG, sebanyak 1,1 persen anak menunjukkan gejala kecemasan (anxiety) dan 1,3 persen menunjukkan gejala depresi. Angka ini merangkak naik ketika anak menginjak jenjang SMP.
Dari 1,7 juta siswa kelas 7 SMP yang diperiksa, sebanyak 7 persen mengalami gejala kecemasan dan 7,4 persen depresi. Angka tersebut berlanjut naik pada kelas 8 SMP (8,7 persen cemas dan 9,1 persen depresi dari 1,49 juta anak) serta kelas 9 SMP (10,3 persen cemas dan 10,7 persen depresi dari 1,42 juta anak).
BACA JUGA
- Indonesia Jadi Negara Pertama di Asia-Pasifik yang Terima Dana Iklim GCF Rp1,85 Triliun
- Perkuat Tata Kelola Pasar Karbon, Kemenhut Rilis Permenhut Nomor 6 Tahun 2026
- Respon Kekeringan di Mamuju, Kementerian PU Salurkan Bantuan 12 Ribu Liter Air Bersih
“Masalah kesehatan jiwa yang sudah lumayan kelihatan dan kalau diperhatikan dari yang tadi, kalau ingat data yang tadi ini naik,” tutur Iwan.
Eskalasi masalah kesehatan mental ini mencapai puncaknya pada jenjang pendidikan menengah atas. Pada kelas 10 SMA, dari 1,45 juta anak yang diuji, sebanyak 14,6 persen menunjukkan gejala kecemasan dan 15,5 persen menunjukkan gejala depresi. Sementara pada kelas 11–12 SMA yang mencakup 1,9 juta anak, sebanyak 15,3 persen mengalami gejala kecemasan dan 15,9 persen terindikasi depresi.
Temuan ini menegaskan perlunya intervensi serta tata laksana kesehatan jiwa yang terintegrasi di lingkungan sekolah guna memastikan kesejahteraan fisik dan mental peserta didik secara seimbang.
“Kalau kita lihat masalah kejiwaan meskipun ini baru gejala, gejala cemas, gejala depresi makin naik. Jadi gimana program kesehatan mental kita nih di sekolah?” ucap Iwan.
