Dampak Nyata Perubahan Iklim, Keringnya Sungai Danube Hantam Pariwisata dan Energi Eropa
Jakarta, sustainlifetoday.com – Gelombang panas ekstrem dan kekeringan berkepanjangan yang melanda wilayah Eropa Tengah dan Barat memicu penyusutan drastis debit air Sungai Danube hingga menyentuh rekor terendah sepanjang sejarah. Bencana iklim ini tidak hanya melumpuhkan sektor pariwisata dan pelayaran, tetapi juga memicu darurat energi di sejumlah negara.
Dampak langsung dari krisis ekologis ini memaksa kepolisian mengevakuasi 186 turis dari kapal pesiar Viking Ullur yang kandas di dekat kota pelabuhan Vidin, Bulgaria. Kapal tersebut terjebak akibat menabrak gundukan pasir dangkal, menyebabkannya gagal bersandar untuk mengisi ulang pasokan logistik sehingga penumpang kehabisan makanan dan air minum. Berdasarkan laporan kantor berita negara Bulgaria, BTA, sebanyak 52 kru kapal kemungkinan harus tetap bertahan di atas kapal untuk batas waktu yang belum ditentukan.
Surutnya Sungai Danube—yang melintasi 10 negara mulai dari Jerman, Austria, Slovakia, Hungaria, Kroasia, Serbia, Bulgaria, Rumania, Moldova, hingga Ukraina—kini menyingkap bebatuan, gundukan pasir, hingga bangkai kapal tua di dasar sungai.
Di Budapest, Hungaria, Otoritas Air Nasional mencatat tinggi muka air Sungai Danube berada di titik kritis 23 sentimeter pada Rabu pagi. Angka ini merosot tajam di bawah rekor terendah sebelumnya yakni 33 sentimeter pada 2018. Kementerian Transportasi dan Investasi Hungaria menyatakan bahwa kondisi ini memaksa lalu lintas kapal kargo dihentikan hampir sepenuhnya.
Pemandangan serupa juga tampak di Serbia. Ratusan perahu kecil dan puluhan kapal kargo terdampar di tepi sungai yang mengering di dekat kota Novi Sad.
“Air Sungai Danube telah surut sekitar 15 hingga 20 meter dari garis pantai,” ujar Radovan Segrt, pemilik rumah apung yang biasa menyewakan tur wisata sungai, seperti dilansir Independent, Sabtu (1/8).
“Untuk musim panas kali ini, bisnis tur perahu sudah berakhir,” tambahnya.
Lebih buruk lagi, defisit air ini mulai mengancam operasional energi berbasis Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) yang sangat bergantung pada air sungai untuk mendinginkan reaktor.
BACA JUGA
- Turis Asing Menangis Lihat Sampah, Bukit Pergasingan Ditutup Sementara untuk Evaluasi
- Pemprov DKI Optimalkan TPS 3R Guna Tekan Volume Sampah ke Bantargebang
- Presiden Prabowo Targetkan Masalah Sampah Nasional Tuntas Dalam Satu Tahun
Di Rumania, aliran air Danube anjlok hingga 1.630 meter kubik per detik, yang mana hanya sepertiga dari rata-rata normal pada bulan Juli. Merespons kondisi kritis tersebut, pemerintah setempat terpaksa mematikan satu unit reaktor di PLTN Cernavoda demi standar keselamatan operasi, dan menyusul satu reaktor lainnya dalam waktu dekat.
Langkah mitigasi serupa juga diambil oleh pemerintah Hungaria. PLTN Paks, yang selama ini menyokong hampir separuh kebutuhan listrik negara tersebut, mulai menurunkan daya reaktornya akibat minimnya pasokan air pendingin.
Layanan Meteorologi Hungaria mencatat bahwa curah hujan dalam 90 hari terakhir berada 80-130 milimeter di bawah rata-rata tahunan. Krisis air ini diprediksi masih akan terus memburuk dalam beberapa hari ke depan mengingat nihilnya potensi curah hujan yang signifikan, sementara suhu udara diproyeksikan akan melonjak melampaui 38 derajat Celsius.
