Pakar BRIN Peringatkan Ancaman Super El Nino dan Potensi Kekeringan Meluas di Indonesia
Jakarta, sustainlifetoday.com – Pakar Klimatologi dan Perubahan Iklim Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Erma Yulihastin, memperingatkan bahwa fenomena iklim El Nino saat ini telah mencapai level kuat dan diprediksi akan terus mengganas di Indonesia. Peringatan ini didasarkan pada pergerakan Indeks Nino 3.4 yang menunjukkan pertumbuhan suhu sangat cepat.
Dalam penjelasan di akun Instagram pribadinya, Erma memaparkan bahwa Indeks Nino 3.4—yang menjadi indikator anomali suhu air laut di bagian tengah Samudra Pasifik—kini telah menembus angka +1,74°C. Angka tersebut mengindikasikan level panas yang lebih ekstrem dibandingkan puncak El Nino pada 2023.
Dalam skala mingguan, tren kenaikan suhu secara konsisten terjadi sebesar 0,2°C sejak Februari hingga saat ini. Menariknya, tidak ditemukan fluktuasi penurunan suhu perairan seperti yang sempat terjadi pada 2023 lalu.
“Dampak yang ditimbulkannya pun bakal lebih besar dibandingkan 2023,” kata Erma, dikutip dari Instagram resminya, pada Selasa (28/7).
Ia menjelaskan, akumulasi panas tersebut menjadikan Samudra Pasifik sebagai lautan yang sangat kuat untuk memicu kelahiran bibit-bibit badai tropis atau siklon tropis yang bergerak ke arah belahan bumi utara, termasuk Amerika.
Namun, efek sebaliknya justru dialami Indonesia. Wilayah Nusantara terjebak menjadi area bayangan hujan atau rain shadow dari perairan Pasifik yang menghambat pembentukan awan.
“Alias kekeringan yang kian hari kian meluas,” ujar Erma.
“Durasi kemarau mungkin normal atau tidak lebih panjang, tapi hari-hari kering tanpa hujan yang bakal lebih panjang,” ujar Erma.
BACA JUGA
- Kementerian Kehutanan Perluas Rehabilitasi Mangrove Guna Dukung Ekonomi Hijau Nasional
- Pengelola KBS Jamin Kesejahteraan Satwa di Tengah Pengusutan Kasus Korupsi Eks Dirut
- Wali Kota Surabaya Pastikan Kondisi Satwa Membaik Usai Kasus Korupsi KBS Terungkap
Sebagai bukti nyata, Erma memberikan contoh wilayah Bandung, Jawa Barat, yang diketahui sudah tidak diguyur hujan sejak awal Juni 2026 hingga menjelang akhir Juli.
Selain fenomena kemarau ekstrem, Erma turut membunyikan peringatan terkait pemanasan air laut di lapisan bawah permukaan (sub-surface) yang kini mencapai dua hingga tiga kali lipat lebih panas dari suhu di permukaan Samudra Pasifik. Suhu tertingginya bahkan menembus 9°C. Kelebihan energi panas dari dasar samudra ini secara otomatis akan terdorong ke seluruh penjuru permukaan.
“Jika ada kondisi terlalu panas di permukaan laut, kemana kelebihannya ditransfer kalau tidak ke atmosfer? Inilah mengapa Super El Nino dipastikan bakal terjadi dan suhu muka laut bakal terus menanjak progresif,” ujar dia.
