PBB: Panas Ekstrem Akibat Krisis Iklim Ancam Jalannya Piala Dunia 2026
Jakarta, sustainlifetoday.com – Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan bahwa Piala Dunia 2026 akan berlangsung di tengah gelombang panas ekstrem yang semakin memburuk akibat perubahan iklim. Kondisi tersebut dinilai mengancam keselamatan pemain, penonton, hingga kelancaran jalannya pertandingan.
Analisis terbaru dari World Weather Attribution (WWA) memperkirakan satu dari empat pertandingan Piala Dunia 2026 akan dimainkan dalam kondisi panas yang berbahaya. Bahkan, sedikitnya lima laga berpotensi melampaui ambang batas suhu yang memicu rekomendasi penundaan pertandingan.
“Kita semua menyaksikan pertandingan, tetapi pertandingan itu berhenti — karena terlalu panas, panas bagi para pemain, bagi penonton, bagi semua orang. Cuacanya panas dan semakin panas. Itu bukan kebetulan. Itulah perubahan iklim. Planet ini memanas setelah lebih dari satu abad membakar bahan bakar fosil seperti batu bara, minyak, dan gas. Itu memerangkap panas di atmosfer. Dan kini kita merasakannya, di mana-mana,” kata Sekretaris Eksekutif Kantor PBB untuk Koordinasi Kerja Perubahan Iklim (UNFCCC), Simon Stiell dikutip pada Selasa (30/6).
WWA menganalisis 104 pertandingan menggunakan indikator Wet Bulb Globe Temperature (WBGT), yaitu ukuran tekanan panas yang memperhitungkan kombinasi suhu udara, kelembapan, radiasi matahari, dan angin. Berbeda dengan suhu udara biasa, WBGT digunakan untuk menilai risiko kesehatan akibat paparan panas.
Para ahli yang memberikan rekomendasi kepada FIFPRO menetapkan WBGT 26 derajat Celsius sebagai ambang batas ketika jeda pendinginan mulai diperlukan karena performa pemain dapat terganggu. Sementara itu, WBGT 28 derajat Celsius menjadi batas yang memicu rekomendasi penundaan pertandingan.
Studi tersebut memperkirakan sekitar lima pertandingan, termasuk laga final, dua perempat final, dan perebutan tempat ketiga, berpotensi melampaui batas 28 derajat Celsius. Selain itu, 97 dari 104 pertandingan diperkirakan memiliki peluang lebih besar mengalami kondisi panas yang berdampak terhadap performa pemain akibat perubahan iklim.
BACA JUGA
- Lippo Malls Indonesia Integrasikan ESG melalui Perluasan PLTS Atap
- BPDP: B50 Jadi Langkah Strategis Kurangi Ketergantungan BBM Fosil
- Nilai Investasi Pertamina NRE di Perusahaan EBT Filipina Melonjak Hampir 50 Persen
Risiko panas diperkirakan paling tinggi terjadi di kota-kota bagian selatan dan pedalaman Amerika Serikat serta Meksiko. Stadion terbuka seperti Miami, Kansas City, dan Philadelphia disebut memiliki peluang lebih besar mengalami tekanan panas ekstrem dibanding lokasi lainnya.
Uruguay menjadi salah satu contoh bagaimana kondisi iklim dapat memengaruhi jalannya kompetisi. Tim tersebut harus menjalani dua pertandingan awal dalam kondisi panas dan kelembapan tinggi sebelum menghadapi laga berikutnya di wilayah dengan ketinggian lebih dari 1.500 meter.
“Itu adalah jadwal yang luar biasa berat yang diciptakan oleh perubahan iklim dan alam, terlepas dari siapa lawannya,” kata ilmuwan iklim Climate Central, Tom Di Liberto.
Temuan lain berasal dari studi terhadap Piala Dunia Antarklub 2025. Penelitian yang menganalisis 57 pertandingan dan 1.070 observasi pemain menemukan bahwa rata-rata WBGT melebihi 28 derajat Celsius dalam 31 pertandingan, sehingga meningkatkan risiko penyakit akibat panas ekstrem.
Selama turnamen tersebut, sejumlah jurnalis, penonton, hingga asisten wasit dilaporkan pingsan akibat cuaca panas. Beberapa pemain juga meminta diganti, sementara jadwal pertandingan sempat mengalami penundaan.
Penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi WBGT, suhu udara, dan kelembapan, semakin pendek jarak tempuh pemain selama pertandingan. Kondisi tersebut memengaruhi intensitas pressing, transisi permainan, tempo, pergantian pemain, proses pemulihan, hingga kemampuan mengambil keputusan di lapangan.
Studi lain juga menunjukkan sekitar 75 persen atlet mengaku pemanasan global telah memengaruhi kemampuan mereka untuk berkompetisi.
Ancaman panas ekstrem tidak hanya dirasakan pemain. Penonton justru menghadapi risiko lebih besar, terutama di area luar stadion seperti zona suporter, antrean tiket, tempat parkir, hingga jalur transportasi yang minim perlindungan dari panas.
Hanya tiga dari 16 stadion Piala Dunia 2026 yang dilengkapi sistem pendingin udara. Bahkan pada stadion yang memiliki pendingin lapangan, penonton tetap harus menghadapi suhu tinggi saat menuju maupun meninggalkan stadion.
Sejak fase grup berlangsung, puluhan penonton dilaporkan mendapat perawatan akibat gangguan kesehatan terkait panas di Houston dan Miami. Festival suporter di Toronto, Houston, dan Atlanta juga sempat terganggu atau dibatalkan akibat cuaca ekstrem.
Proyeksi hingga 2050 menunjukkan 14 dari 16 stadion tuan rumah Piala Dunia diperkirakan akan mengalami kondisi panas ekstrem yang tidak aman tanpa langkah adaptasi signifikan. Sebanyak 11 stadion bahkan berpotensi menghadapi tingkat panas yang dinilai tidak lagi aman untuk menyelenggarakan pertandingan.
Meski sepak bola mulai menerapkan berbagai langkah adaptasi seperti jeda pendinginan, protokol panas, dan penyesuaian jadwal, para ilmuwan menilai upaya tersebut belum cukup.
Mereka menegaskan bahwa pengurangan emisi dari pembakaran bahan bakar fosil seperti batu bara, minyak, dan gas tetap menjadi langkah paling mendasar untuk melindungi masa depan olahraga dari dampak perubahan iklim.
Stiell pun mengajak komunitas sepak bola dunia ikut mendorong percepatan transisi menuju energi terbarukan.
“Olahraga adalah kekuatan pemersatu terbesar di dunia, dan sepak bola adalah olahraga terbesar di dunia. Jika orang-orang yang mencintai sepak bola bersuara untuk melindunginya dari dampak iklim seperti panas ekstrem, itu akan menjadi game changer. Karena ini bukan hanya tentang menyelamatkan olahraga. Ini tentang melindungi dunia tempat olahraga bergantung, yang kita semua bergantung padanya,” kata Stiell.
Ia menambahkan, setiap jeda minum maupun penundaan pertandingan akibat cuaca panas seharusnya menjadi pengingat akan dampak penggunaan bahan bakar fosil terhadap iklim global.
“Setiap kali penonton melihat jeda minum atau pertandingan yang tertunda akibat panas ekstrem, mereka harus mengingat penyebabnya, yakni batu bara, minyak, dan gas yang memanaskan Bumi. Kesehatan permainan, serta dunia, bergantung pada pilihan yang dibuat saat ini.”
