Maybank Indonesia Salurkan Green Financing Rp8,2 Triliun Sepanjang 2025
Jakarta, sustainlifetoday.com – Maybank Indonesia menyalurkan pembiayaan hijau (green financing) senilai sekitar Rp8,2 triliun sepanjang 2025 untuk mendukung pelaku usaha menerapkan prinsip environmental, social, and governance (ESG) sekaligus mempercepat transisi menuju bisnis berkelanjutan.
Presiden Direktur Maybank Indonesia Stefano Ridwan mengatakan pembiayaan tersebut menjadi wujud komitmen perusahaan dalam mendukung agenda keberlanjutan nasabah di berbagai sektor usaha.
“Di Indonesia sendiri, tahun lalu kami melakukan green financing sebesar kurang lebih sekitar 8,2 triliun Rupiah. Dan ini adalah bukti nyata komitmen dari Maybank Indonesia untuk bisa mendukung perusahaan-perusahaan pelaku usaha untuk melakukan transisi ke green financing, ke sustainability agenda mereka,” ujar Stefano dalam Sustainability Day Maybank 2024 di Jakarta, Selasa (30/6).
Stefano menjelaskan, pembiayaan hijau tidak hanya diberikan kepada korporasi besar, tetapi juga mencakup pembiayaan kendaraan listrik melalui Maybank Finance sebagai bagian dari dukungan terhadap transisi menuju ekonomi rendah karbon.
Selain menyediakan pembiayaan, Maybank Indonesia juga memberikan pendampingan teknis kepada nasabah melalui relationship manager dan tim spesialis keberlanjutan. Pendampingan tersebut meliputi edukasi, asistensi, hingga panduan dalam penerapan pembiayaan transisi.
BACA JUGA
- El Nino Menguat, BMKG Sebut Musim Kemarau Kian Meluas di Indonesia
- BPDP: B50 Jadi Langkah Strategis Kurangi Ketergantungan BBM Fosil
- Nilai Investasi Pertamina NRE di Perusahaan EBT Filipina Melonjak Hampir 50 Persen
“Kami juga membantu melalui RM-RM kami, specialist-specialist kami untuk bisa memberikan assist, memberikan guidance, bisa memberikan education juga dengan bekerja sama dengan grup sustainability,” katanya.
Menurut Stefano, penerapan ESG kini menjadi kebutuhan bagi pelaku usaha, terutama perusahaan yang berorientasi ekspor. Sejumlah negara, khususnya di Eropa, mulai menerapkan persyaratan keberlanjutan terhadap produk yang masuk ke pasar mereka.
“Lebih banyak regulator di luar negeri sana, contoh di Eropa, mendemand perusahaan yang melakukan ekspor ini harus sudah melakukan embrace ESG dulu. Kalau dia tidak melakukan itu, produknya menjadi tidak diterima dan akan menjadi kalah dengan barang-barang dari negara lain,” ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, Group Head of Sustainability Maybank Group Dato’ Shahril mengatakan pembiayaan berkelanjutan di Indonesia merupakan bagian dari implementasi strategi regional M25+ yang menargetkan mobilisasi pembiayaan berkelanjutan sekitar RM80 miliar di kawasan ASEAN selama periode 2021–2025.
Selain pembiayaan, Maybank Group juga menargetkan pemberdayaan ekonomi bagi dua juta masyarakat di ASEAN, terdiri atas 1,5 juta orang melalui pembiayaan sosial dan 500 ribu orang melalui program pemberdayaan langsung.
Indonesia menjadi salah satu fokus utama melalui program Reach Independence & Sustainable Entrepreneurship (RISE). Hingga kini, sekitar 15 ribu peserta di Indonesia telah mengikuti program tersebut dari total 51 ribu peserta di ASEAN. Sebanyak 80 persen peserta di Indonesia merupakan penyandang disabilitas, sementara sisanya berasal dari kelompok rentan, termasuk ibu tunggal.
Dato’ Shahril juga menyoroti program Maybank Women Eco-Weavers yang telah berjalan selama satu dekade. Program tersebut pertama kali dilaksanakan di Lombok, Nusa Tenggara Barat, sebelum diperluas ke enam negara di kawasan ASEAN.
Ia menambahkan, Maybank Group kini memiliki dua kerangka pembiayaan berkelanjutan, yakni Sustainable Product Framework yang diterbitkan pada 2022 dan Transition Finance Framework pada 2023. Kedua kerangka tersebut telah memperoleh pengakuan internasional sebagai acuan dalam penyaluran pembiayaan berkelanjutan.
“Dengan adanya framework ini yang telah di-recognize di internasional, di mana mempunyai eligibility criteria, apa yang kita buat itu benar-benar proper,” ujar Dato’ Shahril.
Sementara itu, Stefano mengungkapkan Maybank Indonesia bersama Maybank Sekuritas Indonesia tengah menyiapkan penerbitan obligasi hijau (green bond) yang ditargetkan terealisasi pada semester II 2026.
“Tentu dengan berkolaborasi dengan Maybank Sekuritas, kita bisa menerbitkan green bonds, memang sudah ada dalam pipeline kita. Mudah-mudahan bisa di semester kedua,” kata Stefano.
Selain itu, Maybank Indonesia sebelumnya juga telah meluncurkan instrumen pembiayaan berbasis prinsip syariah yang mengusung nilai keberlanjutan untuk memperluas pilihan produk ESG bagi nasabah.
