ISO Luncurkan Draf Standar Global Net Zero untuk Perkuat Transisi Iklim
Jakarta, sustainlifetoday.com – Organisasi Internasional untuk Standardisasi atau International Organization for Standardization (ISO) meluncurkan draf standar global baru terkait net zero yang bertujuan memberikan panduan seragam bagi perusahaan dan organisasi dalam menyusun, menjalankan, serta melaporkan strategi transisi menuju nol emisi karbon.
Melansir ESG Today pada Kamis (18/6), standar yang diberi nama ISO 14060 tersebut menetapkan kerangka dasar dan persyaratan bagi organisasi untuk menetapkan target pengurangan emisi, menyusun rencana transisi, melaksanakan aksi nyata, hingga melakukan pemantauan dan pelaporan kemajuan yang dapat diverifikasi.
Peluncuran draf standar ini merupakan hasil proses pengembangan selama dua tahun. Sebelumnya, pada 2024, ISO mengumumkan penyusunan standar internasional net zero sebagai tindak lanjut dari Panduan Net Zero yang diterbitkan pada 2022.
ISO menyebut kelompok kerja internasional yang menyusun standar tersebut menjadi salah satu yang terbesar dalam sejarah organisasi itu.
“Dua tahun lalu, kami mengumumkan dimulainya proses global yang penting ini, dengan mengumpulkan lembaga-lembaga standar nasional resmi bentukan pemerintah beserta para ahlinya dari seluruh dunia. Tujuannya adalah untuk memberikan kejelasan, tingkat kepercayaan, dan rasa aman dalam proses peralihan energi ini,” kata Susan Taylor Martin, Kepala Eksekutif BSI yang merupakan lembaga perwakilan ISO di Inggris.
Menurut ISO, standar baru tersebut dirancang untuk memastikan strategi, target, dan tindakan organisasi benar-benar selaras dengan tujuan Perjanjian Paris sekaligus mampu menunjukkan kemajuan yang transparan dan dapat dibuktikan.
BACA JUGA
- Petugas Gagalkan Pengiriman Ilegal Semut Gajah Tanpa Dokumen Resmi
- PTBA Tingkatkan Cofiring Biomassa di PLTU Banko Barat untuk Dukung Dekarbonisasi
- Jakarta dan Singapura Perkuat Kolaborasi Pembangunan Kota Berkelanjutan
Standar ini mencakup pengurangan emisi gas rumah kaca baik secara langsung maupun tidak langsung di seluruh rantai nilai perusahaan, termasuk emisi yang berasal dari pemasok hingga penggunaan produk oleh konsumen. Selain itu, emisi yang tidak dapat dihilangkan diwajibkan dikompensasi melalui mekanisme penyerapan dan penyimpanan karbon.
Fokus utama standar ini adalah mendorong pengurangan emisi secara signifikan dalam jangka pendek, sekaligus menyediakan panduan yang lebih sederhana bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Untuk memenuhi standar tersebut, organisasi diwajibkan menetapkan target penurunan emisi jangka pendek dan jangka panjang. Setelah target ditetapkan, perusahaan harus menerbitkan rencana transisi maksimal dua tahun kemudian yang memuat jadwal implementasi, transformasi model bisnis, metode pengukuran kinerja, serta mekanisme pelaporan yang diverifikasi pihak independen.
Selain itu, standar ini juga mengatur sejumlah aspek lain seperti penggunaan kredit karbon, tanggung jawab manajemen, penetapan target emisi Scope 1, Scope 2, dan Scope 3, pengembangan solusi rendah emisi, kompensasi emisi residual, hingga sistem pengawasan dan verifikasi laporan.
ISO menjelaskan bahwa standar tersebut dapat digunakan oleh perusahaan, organisasi non-pemerintah (NGO), lembaga pendidikan, dan berbagai organisasi lainnya. Namun, standar ini tidak ditujukan untuk negara, provinsi, kota, maupun wilayah administratif lainnya.
Meskipun dirancang terutama untuk sektor non-keuangan, lembaga keuangan tetap dapat menggunakannya untuk mendukung pengelolaan emisi dari operasional internal mereka.
Bersamaan dengan peluncuran draf tersebut, ISO membuka periode konsultasi publik selama 12 minggu melalui jaringan perwakilannya di lebih dari 170 negara. Proses pemungutan suara untuk pengesahan standar dijadwalkan berlangsung pada akhir tahun ini.
“ISO 14060 dibuat untuk memberikan satu aturan main yang disepakati bersama di tingkat dunia. Aturan ini membantu berbagai organisasi membuat rencana peralihan ramah lingkungan yang jujur, sekaligus mendukung ketahanan, inovasi, dan pertumbuhan bisnis jangka panjang,” tambah Noelia Garcia Nebra, Kepala Bagian Keberlanjutan di ISO.
