Lippo Karawaci Perluas Praktik Ekonomi Sirkular di Seluruh Lini Bisnisnya
Jakarta, sustainlifetoday.com – PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) terus memperkuat komitmennya terhadap keberlanjutan dengan mendorong penerapan ekonomi sirkular di seluruh lini bisnis. Melalui Agenda Keberlanjutan 2030, perusahaan menargetkan mengalihkan sedikitnya 3.000 ton limbah dari tempat pembuangan akhir (TPA) setiap tahun.
Langkah tersebut dilakukan seiring meningkatnya perhatian terhadap isu lingkungan dan perubahan iklim. Bagi PT Lippo Karawaci Tbk, limbah tidak lagi dipandang sebagai sekadar sisa aktivitas operasional, melainkan sumber daya yang dapat dimanfaatkan kembali untuk menciptakan nilai ekonomi sekaligus mengurangi dampak lingkungan.
Berbagai program pengelolaan limbah dijalankan dengan mengedepankan prinsip Reduce, Reuse, dan Recycle (3R). Program ini melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari karyawan, penghuni kawasan, pengunjung, tenant, hingga mitra pengelolaan limbah dari sektor publik dan swasta.
Di sektor perhotelan, jaringan Aryaduta menerapkan sistem pemilahan sampah yang terstandarisasi, termasuk pemisahan limbah kering, basah, dan material yang dapat didaur ulang. Botol plastik, kardus, serta minyak jelantah dikumpulkan untuk diproses kembali menjadi produk yang memiliki nilai guna.
Selain itu, penggunaan botol sabun dan sampo sekali pakai telah digantikan dengan dispenser isi ulang. Hotel-hotel Aryaduta juga memanfaatkan sistem berbasis QR code untuk mengurangi penggunaan kertas dalam operasional sehari-hari.
Upaya keberlanjutan tersebut juga menyentuh aspek sosial. Melalui kerja sama dengan organisasi masyarakat setempat, kelebihan makanan dan minuman dari operasional hotel disalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan. Program ini tidak hanya membantu mengurangi limbah makanan, tetapi juga memberikan manfaat sosial bagi komunitas sekitar.
BACA JUGA
- Pertamina dan BRIN Terapkan Teknologi Ubah Sampah Plastik Menjadi Solar
- Luas Karhutla Naik Delapan Kali Lipat, BMKG Minta Penguatan Mitigasi Hadapi Risiko El Nino
- Jelang Implementasi B50, Pemerintah Targetkan Tekan Emisi 46,72 Juta Ton CO2 di 2026
Di sektor residensial dan township, LippoLand mengembangkan berbagai inovasi pengolahan limbah organik. Program pengomposan dijalankan di sejumlah kawasan dengan memanfaatkan limbah organik menjadi pupuk, budidaya maggot untuk mengolah sampah makanan, hingga penerapan teknologi biopower.
Perusahaan juga tengah menguji pemanfaatan limbah lanskap menjadi kompos sebagai bagian dari upaya memperluas penggunaan kembali material yang sebelumnya berpotensi berakhir di TPA.
Sementara itu, Departemen Wastewater Treatment Plant (WWTP) mengeksplorasi pemanfaatan produk sampingan biodegradable sebagai pupuk organik. Selain itu, sludge cake hasil pengolahan limbah juga tengah dikaji untuk dimanfaatkan sebagai bahan konstruksi, termasuk pembuatan blok beton.
Pada sektor ritel, Lippo Malls berhasil meningkatkan tingkat pengalihan limbah dari TPA. Saat ini sekitar 18 persen limbah yang dihasilkan telah berhasil didaur ulang. Selain kertas, plastik, dan aluminium, perusahaan juga bekerja sama dengan mitra khusus untuk mengelola limbah refrigeran dari sistem pendingin berskala besar.
Kebijakan pengurangan penggunaan kantong plastik sekali pakai yang telah diterapkan di Jakarta dan Bali juga terus diperkuat melalui kolaborasi dengan tenant di pusat-pusat perbelanjaan.
Presiden Direktur LPKR, Indra Yuwana, mengatakan penerapan prinsip ekonomi sirkular merupakan bagian dari komitmen perusahaan untuk mencapai target keberlanjutan sekaligus menciptakan lingkungan yang lebih bersih bagi generasi mendatang.
“Penerapan ekonomi sirkular tidak hanya mendukung pencapaian target keberlanjutan perusahaan, tetapi juga menjadi bagian dari komitmen kami dalam menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan berkelanjutan bagi generasi mendatang,” ujar Indra.
