Pertamina dan BRIN Terapkan Teknologi Ubah Sampah Plastik Menjadi Solar
Jakarta, sustainlifetoday.com – Upaya mengatasi persoalan sampah plastik sekaligus mendorong pemanfaatan energi alternatif terus berkembang di Indonesia. Pertamina melalui Pertamina Foundation bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta Pemerintah Kabupaten Bantul meluncurkan alat pirolisis multikondensor Gen 5.0 (Faspol 5.0) yang mampu mengubah sampah plastik menjadi bahan bakar solar.
Teknologi tersebut mulai diimplementasikan di bank sampah yang dikelola Kelompok Swadaya Mandiri (KSM) Pilah Berkah Kapanewon Imogiri, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Inisiatif ini menjadi bagian dari penguatan pengelolaan sampah berbasis masyarakat sekaligus mendukung pengembangan energi alternatif dari limbah plastik.
Bupati Bantul Abdul Halim Muslih mengatakan kehadiran teknologi Faspol diharapkan dapat menjadi solusi jangka panjang dalam menghadapi tantangan pengelolaan sampah di daerahnya, terutama setelah penutupan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Piyungan.
“Pengelolaan sampah di Bantul membutuhkan banyak sinergi karena penanganannya semakin menantang pasca TPA Piyungan ditutup. Hadirnya BRIN lewat inovasi Faspol yang didukung Pertamina Foundation melalui program PFsains selaras dengan fokus penanganan kami saat ini,” ujar Halim dikutip Senin (15/6).
Teknologi Faspol dikembangkan oleh peneliti BRIN sekaligus penerima program PFsains Pertamina Foundation 2024, Heru Susanto. Mesin ini memanfaatkan teknologi pirolisis multikondensor untuk mengolah berbagai jenis sampah plastik, termasuk plastik yang kotor dan basah, menjadi bahan bakar bernama Petasol.
Menurut Heru, setiap satu kilogram sampah plastik dapat menghasilkan sekitar 0,8 hingga 0,9 liter solar melalui proses pemanasan suhu tinggi yang berlangsung selama tujuh hingga delapan jam.
BACA JUGA
- Lahan Pascatambang Dibidik Jadi Lokasi PLTS untuk Dukung Transisi Energi
- BPK Apresiasi Kinerja Bulog dalam Perkuat Ketahanan Pangan Berkelanjutan
- Sampah Plastik Berpotensi Jadi BBM Terbarukan, Regulasi Sedang Disiapkan Pemerintah
“Satu kilogram sampah plastik bisa menghasilkan 0,8-0,9 liter solar. Pengolahannya melalui proses pemanasan suhu tinggi, penjernihan, dan beberapa tahapan lainnya hingga akhirnya diperoleh solar yang siap digunakan pada mesin berbasis diesel,” jelas Heru.
Pemanfaatan teknologi ini dinilai dapat memberikan nilai tambah pada sampah plastik yang selama ini menjadi salah satu tantangan terbesar dalam pengelolaan limbah perkotaan maupun pedesaan.
Saat ini, Faspol 5.0 telah diterapkan di 53 lokasi di berbagai wilayah Indonesia. BRIN menargetkan teknologi tersebut dapat diadopsi lebih luas hingga tingkat desa dan kecamatan guna memperkuat pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular.
Heru menyebut dukungan Pertamina Foundation melalui program PFsains berperan penting dalam memperluas penerapan inovasi tersebut ke daerah-daerah yang membutuhkan solusi pengelolaan sampah.
“Dukungan Pertamina Foundation melalui program PFsains membuat kami bisa mereplikasi inovasi ini ke Bantul yang tengah bergulat dengan tantangan pengelolaan sampah,” ujarnya.
Presiden Director Pertamina Foundation Agus Mashud S. Asngari mengatakan program PFsains dirancang untuk mendorong inovasi yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat sekaligus menciptakan manfaat ekonomi secara langsung.
“Permasalahan sampah plastik yang selama ini menjadi tantangan lingkungan dapat diubah menjadi sumber daya yang memiliki nilai ekonomi. Lewat program PFsains, kami menjembatani hasil riset dan inovasi agar tidak berhenti sebagai karya ilmiah, tetapi dapat dihilirisasikan menjadi solusi nyata bagi masyarakat,” kata Agus.
Sejak 2020, program PFsains telah mendukung sedikitnya 45 inovator dan peneliti dari berbagai bidang, mulai dari energi terbarukan, pertanian, perikanan, hingga pengelolaan limbah.
Penerapan Faspol 5.0 di Bantul menunjukkan bagaimana inovasi teknologi dapat mendukung pengurangan sampah plastik sekaligus menghasilkan sumber energi alternatif. Pendekatan ini sejalan dengan upaya mendorong ekonomi sirkular, mengurangi beban lingkungan, serta meningkatkan nilai guna limbah yang sebelumnya tidak termanfaatkan.
