Perubahan Iklim Gerus Produktivitas Petani Indonesia, Jam Kerja Hilang Terus Meningkat
Jakarta, sustainlifetoday.com – Dampak perubahan iklim semakin terasa di sektor pertanian Indonesia. Tekanan suhu panas yang meningkat menyebabkan pekerja pertanian kehilangan rata-rata 595,1 jam kerja sepanjang 2024, naik 21,8 persen dibandingkan 2022.
Temuan tersebut terungkap dalam laporan Energy & Climate Intelligence Unit (ECIU) berjudul Heat Stress & UK Food Imports. Secara total, sektor pertanian Indonesia diperkirakan kehilangan sekitar 23,6 juta jam kerja selama 2024 akibat tekanan panas yang semakin tinggi.
Laporan tersebut menunjukkan tren peningkatan yang konsisten dalam beberapa tahun terakhir. Rata-rata jam kerja yang hilang akibat suhu panas bertambah sekitar empat jam per pekerja setiap tahun. Jika dibandingkan dengan 2019, kehilangan jam kerja per pekerja meningkat 14,9 persen, sementara dibandingkan 2014 meningkat 24,4 persen.
Peningkatan kehilangan jam kerja ini lebih banyak dipengaruhi oleh semakin beratnya tekanan panas yang dialami pekerja dibandingkan pertumbuhan jumlah tenaga kerja di sektor pertanian.
Manager Outreach & Advocacy CERAH, Bondan Andriyanu, mengatakan dampak perubahan iklim tidak hanya dirasakan oleh petani, tetapi juga masyarakat luas sebagai konsumen.
“Selain oleh petani yang kehilangan mata pencaharian saat panen, dampak dari cuaca ekstrem juga dirasakan oleh warga kota yang membeli produk turunannya, kopi dan sayur-mayur. Barang-barang tersebut menjadi mahal dan langka bagi orang-orang yang seharusnya bisa membeli produk tersebut. Ini adalah dampak yang dirasakan secara seragam oleh semua orang Indonesia. Maka dari itu, kita tidak boleh beradaptasi saja. Mitigasi iklim juga penting,” kata Bondan dalam siaran persnya, Rabu (10/6).
Laporan ECIU juga menyoroti berbagai tekanan iklim yang semakin memperberat kondisi sektor pertanian nasional. Kenaikan suhu, perubahan pola curah hujan, serta deforestasi yang masih terjadi dinilai berkontribusi terhadap meningkatnya risiko banjir dan tanah longsor di berbagai wilayah.
BACA JUGA
- Menteri LH Tolak Penghentian Swakelola Sampah, Dorong Penguatan Green Job di Daerah
- Klaim Kualitas B50 Lebih Baik Dibanding B40, Bahlil: Kadar Airnya Lebih Rendah
- Menko Airlangga: Ekspor Listrik Bersih ke Singapura Belum Dimulai Tahun Ini
Selain itu, gelombang panas di kawasan perkotaan dan pemanasan suhu laut turut mengancam keberlangsungan ekosistem terumbu karang dan hutan mangrove yang memiliki peran penting bagi sektor perikanan serta perlindungan wilayah pesisir.
Ancaman terhadap ketahanan pangan diperkirakan semakin besar apabila fenomena El Niño yang diproyeksikan terjadi pada 2026 berlanjut hingga 2027. Kondisi cuaca yang lebih kering berpotensi meningkatkan risiko kekeringan, kebakaran hutan, serta gangguan pola musim yang berdampak langsung terhadap produksi pangan nasional.
Kepala Program Internasional ECIU, Gareth Redmond King, menilai perubahan iklim kini tidak hanya mengancam hasil panen, tetapi juga keselamatan dan produktivitas para pekerja yang berada di lapangan.
“Ancaman dari perubahan iklim semakin meningkat, berdampak pada tanaman pangan itu sendiri, tetapi juga pada para pekerja yang kita andalkan untuk memproduksinya. Di negara-negara seperti India, di mana suhu saat ini mencapai angka empat puluhan derajat Celsius, sangat berbahaya untuk bekerja di luar ruangan, yang membahayakan kesehatan, mata pencaharian, dan pasokan makanan yang stabil,” ujarnya.
Dampak tersebut juga memiliki implikasi terhadap rantai pasok pangan global. Indonesia termasuk dalam 15 negara dengan tingkat kerentanan iklim tinggi yang secara kolektif memasok sekitar 11 persen impor pangan Inggris senilai 7,4 miliar poundsterling pada 2025.
Sepanjang tahun tersebut, Inggris mengimpor produk pangan dari Indonesia senilai 172 juta poundsterling atau sekitar 101 juta kilogram, yang mencakup komoditas seperti kopi, minyak sawit, kelapa kering, dan tuna cakalang.
Fenomena kehilangan produktivitas akibat tekanan panas tidak hanya terjadi di Indonesia. Secara global, sekitar 1,5 miliar orang atau 25,3 persen populasi usia kerja bekerja di luar ruangan pada 2024. Paparan panas diperkirakan menyebabkan kehilangan hingga 640 miliar jam kerja, meningkat 98,1 persen dibandingkan rata-rata pada dekade 1990–1999.
Pekerja sektor pertanian menjadi kelompok yang paling terdampak, dengan kontribusi mencapai 63,5 persen dari total jam kerja yang hilang secara global. Di negara-negara dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) rendah, angka tersebut bahkan mencapai 75,5 persen.
Melihat tren tersebut, ECIU mendorong percepatan upaya mitigasi perubahan iklim serta peningkatan investasi untuk melindungi tenaga kerja sektor pertanian. Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga produktivitas, stabilitas pasokan pangan, dan ketahanan ekonomi masyarakat di tengah meningkatnya risiko iklim global.
