Ilmuwan Kembangkan Teknologi Daur Ulang Plastik Campuran yang Ramah Lingkungan
Jakarta, sustainlifetoday.com – Tim ilmuwan dari Nanyang Technological University (NTU) Singapura mengembangkan teknologi baru yang memungkinkan daur ulang kemasan plastik campuran tanpa menggunakan pelarut kimia berbahaya. Inovasi ini dinilai berpotensi menjadi solusi bagi limbah plastik multilapis yang selama ini sulit didaur ulang dan sebagian besar berakhir di tempat pemrosesan akhir maupun insinerator.
Teknologi tersebut dikembangkan oleh peneliti dari School of Materials Science and Engineering bersama Nanyang Environment and Water Research Institute (NEWRI). Metode yang diberi nama depolymerisation-induced polymer separation (DIPS) itu bekerja dengan memecah jenis plastik tertentu dalam kemasan campuran secara selektif, sehingga material lain yang masih dapat didaur ulang tetap terjaga dan lebih mudah diproses kembali.
Kemasan plastik multilapis banyak digunakan dalam berbagai produk pangan, seperti makanan ringan dan mi instan, karena mampu menjaga kualitas produk serta memiliki daya tahan yang tinggi. Namun, kombinasi beberapa jenis plastik dalam satu kemasan membuat proses pemisahan dan daur ulang menjadi tantangan tersendiri bagi industri pengelolaan limbah.
Direktur Program NEWRI sekaligus ketua penelitian, Hu Xiao, mengatakan penggunaan kemasan plastik campuran terus meningkat, sementara solusi daur ulang yang aman dan efisien masih terbatas.
“Kami melihat semakin banyak kemasan plastik campuran yang digunakan pada produk makanan sehari-hari, tapi untuk mendaur ulangnya secara efisien dan aman masih menjadi tantangan besar, tim kami berupaya mengatasi hal ini dengan mengembangkan cara praktis dan terukur untuk memisahkan material ini tanpa menggunakan pelarut berbahaya,” kata Hu Xiao dikutip pada Minggu (7/6).
Peneliti lainnya, Lian Yen Nan, menjelaskan bahwa minimnya teknologi yang layak untuk mengolah plastik campuran menjadi salah satu hambatan utama dalam industri daur ulang saat ini. Karena itu, penelitian tersebut difokuskan pada pengembangan solusi yang dapat diterapkan secara nyata dalam skala industri.
BACA JUGA
- BYD Buka Suara Terkait Kebakaran di Pabrik Kendaraan Listrik Subang
- KLH Ajak Seluruh Elemen Bangsa Bergerak Bersama pada Hari Lingkungan Hidup 2026
- Kadin: Masa Depan Hilirisasi Nikel Ditentukan oleh Kinerja ESG yang Terukur
Metode DIPS memanfaatkan teknik reactive extrusion, yaitu proses yang menggunakan mesin extruder yang lazim digunakan untuk melelehkan dan membentuk plastik. Dalam metode ini, mesin tersebut difungsikan sebagai reaktor kimia.
Saat limbah plastik campuran diproses, plastik jenis polyethylene terephthalate (PET) bereaksi dengan gliserol yang relatif murah dan mudah diperoleh. Reaksi tersebut mengubah PET menjadi molekul yang lebih kecil sehingga karakteristik fisik dan kimianya berubah.
Perubahan tersebut memungkinkan PET terpisah secara alami dari polypropylene (PP), material yang juga banyak digunakan dalam kemasan plastik. Pemisahan terjadi karena adanya perbedaan polaritas dan viskositas kedua material selama proses berlangsung.
Seluruh proses dilakukan pada tekanan normal dan tanpa penggunaan pelarut kimia. Kondisi tersebut membuat metode DIPS dinilai lebih aman sekaligus berpotensi menekan biaya dibandingkan teknologi daur ulang kimia konvensional.
Dalam pengujian laboratorium, material PP hasil pemisahan mampu mempertahankan hingga 90 persen kekuatan tarik dibandingkan plastik baru. Ketika diterapkan pada sampel limbah industri, kualitas material yang dihasilkan juga disebut lebih baik dibandingkan metode daur ulang mekanis konvensional.
Sementara itu, material PET hasil proses masih memiliki nilai ekonomi karena dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku produk bernilai tambah tinggi, termasuk material pengganti epoksi untuk bilah turbin angin maupun diolah kembali menjadi monomer pembentuk polimer baru.
Tim peneliti meyakini metode DIPS dapat diterapkan pada berbagai kombinasi plastik campuran lainnya dan dikembangkan dalam skala industri menggunakan mesin extrusion yang telah tersedia di banyak fasilitas manufaktur.
Penulis utama penelitian sekaligus mahasiswa doktoral NTU, Kathirvel Periasamy, mengatakan teknologi tersebut dirancang untuk menjembatani kebutuhan industri dengan hasil penelitian laboratorium.
“Proses kami mencoba menjembatani kesenjangan antara penelitian laboratorium dan aplikasi industri, dengan menyederhanakan pemisahan dan menghilangkan zat pelarut, kami bertujuan membuat daur ulang plastik lebih layak secara ekonomi dan berkelanjutan bagi lingkungan,” kata Kathirvel.
Para peneliti memperkirakan bahwa jika limbah plastik campuran dapat didaur ulang secara efisien dalam skala besar, potensi nilai ekonomi yang tercipta secara global dapat mencapai lebih dari 250 miliar dolar AS atau sekitar Rp4.000 triliun per tahun.
Untuk tahap selanjutnya, tim peneliti berencana bekerja sama dengan berbagai mitra industri guna menguji penerapan teknologi tersebut pada skala produksi yang lebih besar.
