Industri Stainless Steel Dinilai Punya Potensi Ekonomi Sirkular
Jakarta, sustainlifetoday.com – Pelaku industri stainless steel menilai produk berbahan baja tahan karat memiliki peluang besar dalam penerapan ekonomi sirkular karena dapat didaur ulang menjadi produk serupa maupun produk lainnya.
Konsep tersebut dinilai berpotensi mendukung industri yang lebih berkelanjutan sekaligus mengurangi kebutuhan penambangan nikel baru secara terus-menerus.
Chief Representative of Walsin Lihwa di Indonesia, C. S. Hsia, menjelaskan bahwa stainless steel memiliki tingkat daur ulang tinggi dan idealnya diproses kembali menjadi produk stainless steel serupa.
“Idealnya, mendaur ulang nikel dalam baja tahan karat adalah untuk mengolahnya menjadi produk serupa. Memurnikannya hingga mencapai titik di mana Anda dapat membuat nikel untuk baterai, terlalu boros energi,” kata dia dalam diskusi publik di Jakarta dikutip pada Selasa (26/5).
Walsin Lihwa sendiri merupakan grup perusahaan yang bergerak di bidang kawat, kabel, stainless steel, serta investasi teknologi.
Sementara itu, Associate Principal Energy Shift Institute (ESI), Ahmad Zuhdi D. Kusuma, mengatakan ekonomi sirkular di industri nikel dan stainless steel baru dapat terwujud apabila industrialisasi nikel di Indonesia berkembang secara menyeluruh.
“Kalau pengembangan industrinya terkontrol sejak tahap penambangan, pada suatu kondisi kita tidak akan butuh lagi atau berkurang kebutuhannya untuk mencari feedstock (nikel) baru,” ujar dia.
BACA JUGA
- Kawasan Wisata Gunung Bromo Ditutup Sementara pada 30 Mei–2 Juni 2026
- Peneliti Temukan Populasi Hiu Air Tawar yang Nyaris Punah di Kalimantan
- Minim Ahli Lingkungan di Kaltara, UBT Siap Buka Prodi Ilmu Lingkungan
Namun, menurut Zuhdi, industri nikel Indonesia saat ini masih didominasi produk setengah jadi yang diekspor ke luar negeri untuk diproses lebih lanjut menjadi produk akhir.
Ia menyoroti bahwa sebagian besar stainless steel Indonesia masih diekspor dalam bentuk bahan baku, sementara produk jadi seperti peralatan dapur, keran, dan perlengkapan logam justru diimpor kembali.
“Saat ini, kita mengekspor sebagian besar baja tahan karat dan mengimpornya dalam bentuk peralatan dapur, keran, dan perlengkapan logam yang terbuat dari bahan tersebut,” ucap dia.
Temuan tersebut juga tercantum dalam laporan ESI bertajuk Dominance without Depth: The Smelting Superpower that Imports its own Metal, yang menyebut struktur hilirisasi nikel nasional masih terkonsentrasi pada sektor hulu seperti peleburan dan produksi baja dasar.
Menurut perhitungan ESI, pengembangan industri manufaktur lanjutan memiliki dampak ekonomi dan penciptaan lapangan kerja yang lebih besar dibandingkan pembangunan smelter.
ESI memperkirakan investasi sebesar US$1,5 miliar pada satu smelter mampu menyerap sekitar 3.000 hingga 5.000 tenaga kerja. Sementara investasi dengan nilai yang sama pada industri manufaktur lanjutan berpotensi menciptakan 15.000 hingga 20.000 lapangan kerja.
Karena itu, ESI merekomendasikan sejumlah kebijakan untuk memperkuat hilirisasi nikel hingga produk akhir stainless steel di dalam negeri. Rekomendasi tersebut mencakup restrukturisasi insentif fiskal bagi industri manufaktur lanjutan, pengembangan kawasan industri sebagai pusat rantai pasok domestik dan UMKM, serta pembangunan perusahaan nasional dan ekosistem riset guna mendukung transfer teknologi dan inovasi dalam negeri.
