Minim Ahli Lingkungan di Kaltara, UBT Siap Buka Prodi Ilmu Lingkungan
Jakarta, sustainlifetoday.com – Universitas Borneo Tarakan (UBT) tengah mempersiapkan pembukaan Program Studi (Prodi) Ilmu Lingkungan sebagai respons terhadap minimnya tenaga ahli lingkungan di tengah pesatnya pembangunan industri di Kalimantan Utara.
Kepala Laboratorium Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan UBT, Heni Irawati, membenarkan rencana tersebut. Saat ini, pihak universitas disebut masih merampungkan dokumen kelayakan sebelum diajukan ke kementerian dan BAN-PT.
“Itu benar. Sekarang kita masih dalam tahap proses untuk menguji kelayakan, kenapa prodi ini sangat mendesak untuk segera didirikan. Masih di tahapan persiapan dokumen dulu,” kata Heni dikutip dari detikKalimantan, Senin (25/5).
Menurut Heni, pembukaan Prodi Ilmu Lingkungan menjadi penting karena persoalan lingkungan di Kaltara mulai meningkat seiring pertumbuhan aktivitas industri dan pembangunan.
Ia mencontohkan persoalan pada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang sempat dihentikan operasionalnya akibat belum tersedianya Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) atau pengelolaan IPAL yang belum optimal.
BACA JUGA
- Tata Kelola Hutan Diuji, DPR Sebut Negara Sempat Kehilangan Kontrol atas Jutaan Hektare Lahan
- Pemerintah Percepat Pengembangan PLTS untuk Tekan Biaya Energi Nasional
- Mengupas Buku “Transformasi Menuju Bisnis Hijau Perusahaan”, Dari ESG Hingga Risiko Iklim
“Setiap SPPG itu seharusnya punya ahli lingkungan. Kenyataannya ada beberapa yang ditutup karena IPAL-nya bermasalah. Itu karena mereka masih kekurangan dari segi ahli lingkungan tadi,” ungkapnya.
Heni juga menyebut secara internal UBT telah siap dari sisi tenaga pengajar maupun sarana dan prasarana penunjang untuk mendukung pembukaan program studi tersebut.
Ke depan, lulusan Prodi Ilmu Lingkungan UBT diproyeksikan mampu mengisi kebutuhan tenaga ahli di berbagai sektor, mulai dari konsultan lingkungan, petugas health, safety, and environment (HSE) di perusahaan, hingga aktivis lembaga swadaya masyarakat (LSM).
“Mereka diharapkan menjadi agent of change yang membawa solusi atas masalah lingkungan,” harapnya.
