Peneliti Temukan Populasi Hiu Air Tawar yang Nyaris Punah di Kalimantan
Jakarta, sustainlifetoday.com – Tim peneliti gabungan menemukan kembali populasi Hiu Gangga (Glyphis gangeticus), spesies hiu air tawar yang selama bertahun-tahun dianggap nyaris hilang dari perairan dunia.
Penelitian yang dipimpin Universitas Hasanuddin menemukan spesies hiu yang terancam punah tersebut di perairan Sungai Sesayap, Kabupaten Tana Tidung, Kalimantan Utara.
“Temuan ini bukan hanya tentang menyelamatkan satu spesies langka, tetapi juga tentang bagaimana kita membangun model konservasi yang adil, kolaboratif, dan dapat diterima masyarakat,” kata Rohani Ambo Rappe, perwakilan Rektor Unhas dilansir Antara, Senin (25/5).
Rohani menjelaskan keterlibatan Unhas dalam penelitian tersebut merupakan bagian dari komitmen jangka panjang universitas dalam mendukung konservasi berbasis kolaborasi internasional serta penguatan riset kelautan berkelanjutan.
BACA JUGA
- Tata Kelola Hutan Diuji, DPR Sebut Negara Sempat Kehilangan Kontrol atas Jutaan Hektare Lahan
- Kritis JATAM soal Pasar Karbon: Legitimasi Baru bagi Industri Ekstraktif
- IESR: Bensin Berbasis Sawit Berisiko Tambah Beban Fiskal Energi
Selain Unhas, riset ini juga melibatkan James Cook University dan Universitas Borneo Tarakan.
Menurut Rohani, kerja sama antara Unhas dan James Cook University yang dimulai sejak 2022 tidak hanya berfokus pada pengumpulan data ilmiah, tetapi juga diarahkan untuk membangun model konservasi yang melibatkan masyarakat sebagai bagian dari solusi.
“Karena itu, kami mendorong lahirnya konsorsium riset hiu dan pari di Kalimantan agar penguatan data ilmiah dan kebijakan dapat berjalan beriringan,” jelasnya.
Ia menyebut temuan tersebut menjadi kabar penting bagi komunitas konservasi internasional. Sejak tahun 2000, kemunculan Hiu Gangga tercatat kurang dari sepuluh kali di seluruh wilayah persebaran historisnya, mulai dari Pakistan hingga Myanmar.
International Union for Conservation of Nature (IUCN) sendiri telah menetapkan spesies tersebut dalam kategori Critically Endangered atau kritis, menjadikannya salah satu hiu paling langka di dunia.
Namun, penelitian lapangan pada 2023 menghadirkan temuan mengejutkan. Dalam waktu kurang dari tiga minggu, tim peneliti berhasil mengamati 43 spesimen Hiu Gangga di Sungai Sesayap.
Jumlah tersebut menjadikan kawasan Sungai Sesayap sebagai salah satu habitat tersisa paling penting bagi keberlangsungan spesies yang selama ini sangat jarang ditemukan.
Rohani menilai temuan ini bukan sekadar pencapaian ilmiah, melainkan juga bukti bahwa riset kolaboratif dapat membuka kembali harapan bagi konservasi biodiversitas Indonesia.
Sementara itu, peneliti dari James Cook University, Michael Grant, mengungkapkan bahwa Sungai Sesayap telah ditetapkan sebagai Important Shark and Ray Area (ISRA) pada 2024.
Pengakuan internasional tersebut menegaskan pentingnya kawasan itu sebagai daerah asuhan atau nursery ground bagi hiu sungai yang sangat langka.
