Surveyor Indonesia Luncurkan SIClirisk, Platform Digital untuk Mitigasi Risiko Iklim
Jakarta, sustainlifetoday.com – PT Surveyor Indonesia (Persero) meluncurkan SIClirisk, platform digital yang dirancang untuk membantu pelaku usaha menghadapi risiko perubahan iklim dan mendukung penerapan praktik bisnis berkelanjutan.
Peluncuran SIClirisk disebut menjadi bagian dari dukungan terhadap strategi ekonomi hijau pemerintah yang didorong melalui Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas).
Direktur Utama PT Surveyor Indonesia, Fajar Wibhiyadi, mengatakan perubahan iklim kini telah menjadi risiko nyata bagi dunia usaha dan tidak lagi hanya dipandang sebagai isu lingkungan.
“Perusahaan membutuhkan pendekatan berbasis data untuk memahami potensi risiko yang dapat memengaruhi aset dan keberlanjutan usaha. Kebutuhan akan sustainability assurance kini meningkat seiring berkembangnya implementasi prinsip ESG di berbagai industri,” ujar Fajar dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (8/5).
Menurut Surveyor Indonesia, urgensi mitigasi perubahan iklim semakin meningkat. Mengacu pada data Survey Burson 2025, sebanyak 98 persen masyarakat Indonesia percaya terhadap perubahan iklim dan 81 persen di antaranya meyakini aktivitas manusia menjadi penyebab utama.
BACA JUGA
- IUCN: Masa Depan Konservasi Badak dan Gajah di Indonesia Semakin Menjanjikan
- BMKG Prediksi Jakarta Mulai Masuk Musim Kemarau pada Akhir Mei 2026
- Cagar Budaya Hadapi Ancaman Bencana, Kemenbud dan PBN Perkuat Mitigasi Nasional
SIClirisk dikembangkan sebagai bagian dari transformasi industri Testing, Inspection, Certification, and Consultation (TICC) berbasis layanan hijau. Platform tersebut mengintegrasikan teknologi kecerdasan buatan (AI), data geospasial, dan citra satelit untuk menghasilkan analisis risiko iklim.
Beberapa fitur utama yang tersedia dalam platform tersebut antara lain Climate Risk Rating & Carbon Stock Mapping untuk pemetaan risiko iklim dan stok karbon, Flood Risk Assessment untuk analisis risiko banjir, Early Warning System berbasis data, hingga Green Financing Support yang ditujukan mendukung akses pembiayaan hijau bagi pelaku usaha.
Fajar berharap platform ini dapat membantu perusahaan mengambil keputusan bisnis yang lebih adaptif terhadap tantangan iklim.
“Harapannya, platform ini mampu meningkatkan transparansi keberlanjutan dan mendukung transformasi menuju praktik bisnis yang lebih hijau,” pungkasnya.
Pemerintah Indonesia sendiri telah menempatkan ekonomi hijau sebagai salah satu pilar utama pembangunan nasional jangka panjang. Langkah tersebut dinilai penting mengingat Indonesia sebagai negara kepulauan menghadapi risiko tinggi terhadap bencana hidrometeorologi, seperti banjir, kenaikan muka air laut, hingga kekeringan ekstrem.
Di tengah meningkatnya tuntutan global terhadap transparansi Environmental, Social, and Governance (ESG), perusahaan kini tidak hanya dinilai dari kinerja finansial, tetapi juga kontribusinya dalam mengurangi dampak lingkungan dan emisi karbon. Kehadiran platform digital seperti SIClirisk dinilai menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan bisnis sekaligus mendukung transisi menuju ekonomi rendah karbon di Indonesia.
