Sejarah Hari Buruh, Perjuangan Buruh Dunia untuk Jam Kerja yang Lebih Manusiawi
Jakarta, sustainlifetoday.com – Pekerja di berbagai negara memperingati Hari Buruh Internasional atau May Day setiap 1 Mei sebagai momentum mengenang perjuangan dan pencapaian gerakan buruh dunia. Di sejumlah negara seperti India, Afrika Selatan, Cina, Jerman, Prancis, Spanyol, Portugal, dan Yunani, May Day ditetapkan sebagai hari libur nasional.
Sementara itu, di Amerika Serikat dan Kanada, peringatan serupa dirayakan setiap Senin pertama di bulan September.
Mengutip Britannica, Hari Buruh Internasional berawal dari perjuangan pekerja di Amerika Serikat yang menuntut pengurangan jam kerja. Pada masa revolusi industri abad ke-19, pekerja diketahui harus bekerja selama 14 hingga 20 jam per hari dengan kondisi kerja yang berat.
Tuntutan pengurangan jam kerja dan kenaikan upah mendorong pekerja membentuk serikat buruh untuk memperjuangkan kondisi kerja yang lebih manusiawi. Pada 1837, Presiden AS Martin Van Buren menetapkan pengurangan jam kerja menjadi 10 jam per hari, meski kebijakan tersebut belum berlaku secara menyeluruh.
Perjuangan terus berlanjut hingga pada 1850-an muncul tuntutan kerja maksimal delapan jam per hari. Gerakan tersebut kemudian meluas ke berbagai negara.
Pada 1860-an, National Labor Union (NLU) dibentuk untuk menyatukan pekerja lintas sektor dan menetapkan resolusi jam kerja maksimal delapan jam di seluruh negara bagian. Di tahun yang sama, Kongres Jenewa dari First International turut mendukung tuntutan tersebut.
Federasi Serikat Buruh di Amerika Serikat dan Kanada kemudian menetapkan mulai 1 Mei 1886, durasi kerja dikurangi menjadi delapan jam per hari. Keputusan itu diikuti aksi mogok kerja massal yang melibatkan sekitar 500 ribu pekerja dalam lebih dari 1.500 aksi di berbagai kota besar, terutama Chicago.
Di Amerika Serikat, tanggal 1 Mei dipilih untuk menghormati pekerja yang menjadi korban dalam Peristiwa Haymarket, sebuah demonstrasi buruh yang menuntut pengurangan jam kerja.
Sementara di Eropa, 1 Mei awalnya berkaitan dengan festival musim semi sebelum berkembang menjadi simbol perjuangan gerakan buruh internasional. Pada tahun yang sama, Kongres Buruh Internasional di Paris, Prancis, menetapkan 1 Mei sebagai Hari Buruh Internasional.
BACA JUGA
- Kemnaker Proyeksikan 3,8 Juta Green Jobs Tercipta di Tahun 2026
- Deforestasi Primer Global Turun, Indonesia Justru Naik 14,2 Persen
- Indonesia Berpotensi Ciptakan 10 Juta Green Jobs di 2060, SDM Masih Jadi Tantangan
Di Indonesia, peringatan May Day mengalami perubahan pasca-peristiwa Gerakan 30 September pada 1965. Pada masa Orde Baru, aktivitas buruh yang dianggap mengancam keamanan nasional dibatasi dan peringatan May Day berganti menjadi Hari Buruh Nasional.
Tahun ini, tema Hari Buruh Internasional 2026 adalah “Memastikan Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Tengah Perubahan Iklim”. Tema tersebut menyoroti tantangan baru yang dihadapi pekerja akibat cuaca ekstrem, gelombang panas, dan perubahan lingkungan.
Tema tersebut juga menekankan pentingnya peran pemerintah dan perusahaan dalam menyesuaikan standar keselamatan kerja untuk melindungi kesejahteraan fisik dan mental pekerja di tengah kenaikan suhu global serta transisi hijau industri.
