Dikelola Teman Tuli, Sisi Manis Tawarkan Pengalaman Beli Es Krim dengan Bahasa Isyarat
Jakarta, sustainlifetoday.com – Di sebuah sudut kawasan Barito, Jakarta Selatan, antrean kecil terlihat di depan sebuah gerai es krim terbuka. Sekilas tampak seperti tempat jajan biasa. Namun, ada satu hal yang langsung terasa berbeda, pengunjung tidak memesan dengan suara, melainkan dengan bahasa isyarat.
Gerai es krim tersebut adalah Sisi Manis, brand yang baru diluncurkan pada 17 April 2026 sebagai inisiasi dari Sunyi Group yang juga menaungi Sunyi Coffee.
Berlokasi di Sunyi Coffee, tepat di dekat Taman Bendera Pusaka, gerai ini menawarkan pengalaman menikmati es krim yang berbeda. Bukan hanya soal rasa, tetapi juga tentang cara berinteraksi dan nilai yang dibawa.
“Jadi brand Sisi Manis ini adalah inisiasi dari Sunyi Coffee, yang di mana kita ingin memberikan layanan yang lebih. Kita sebagai perusahaan F&B tentunya ingin customer tuh mencoba sesuatu yang baru, apalagi sekitar kita ada taman kan sekarang. Ya taman tuh mungkin cenderung panas ya, ngademnya di sini, makan es krim,” ujar Owner Sisi Manis, Mario Gultom kepada SustainLife Today.
Gerai ini mengusung konsep walk-up counter yang terbuka, membuatnya terasa santai dan menyatu dengan area sekitar. Pengunjung bisa langsung membeli es krim lalu menikmatinya sambil berjalan di taman atau duduk dibawah rindangnya pohon Sunyi Coffee.

Sisi Manis sendiri menghadirkan tiga varian utama, yaitu cokelat, mixed, dan earl grey. Menariknya, varian earl grey dibuat menggunakan daun teh asli yang menghasilkan rasa lebih otentik dan lembut. Sementara varian cokelat hadir dengan karakter manis yang ringan.
Selain itu, produk di Sisi Manis juga tidak menggunakan gula tambahan, menjadikannya pilihan yang lebih ringan untuk dinikmati di cuaca panas.
Pengunjung bisa memilih berbagai cara menikmati es krim, mulai dari cone, cup, hingga kombinasi unik seperti disajikan dengan ubi atau pancake. Tersedia pula opsi membeli pancake atau ubi saja. Harga yang ditawarkan pun cukup terjangkau, mulai dari Rp18 ribu.
Namun, yang paling membedakan Sisi Manis dari gerai es krim lainnya adalah pendekatan inklusivitasnya. Seluruh karyawan di gerai ini merupakan teman-teman tuli, sehingga proses pemesanan dilakukan menggunakan bahasa isyarat.
“Dan di sini konsepnya juga sama, sama-sama berdampak seperti Sunyi Coffee. Jadi yang bekerja adalah teman-teman kita yang berbakat, teman-teman tuli. Pesannya harus pakai isyarat juga. Ini pun jadi inisiasi yang positif buat kami karena kami pun bisa membuka lebih banyak lapangan pekerjaan lagi untuk teman-teman tuli dan disabilitas,” lanjut Mario.

Di Sisi Manis, proses memesan jadi pengalaman tersendiri. Tanpa suara, pelanggan menggunakan bahasa isyarat untuk berkomunikasi dengan para karyawan. Pengalaman ini melanjutkan konsep yang lebih dulu dihadirkan oleh Sunyi Coffee, di mana interaksi nonverbal menjadi bagian dari layanan sehari-hari.
Melalui pendekatan ini, Sisi Manis tidak hanya menawarkan produk, tetapi juga membuka ruang yang lebih inklusif, dengan melibatkan teman-teman tuli sebagai bagian utama dari operasional sekaligus mendorong pelanggan untuk lebih memahami cara berkomunikasi teman tuli.
Dengan jam operasional pukul 11.00 hingga 20.00 setiap hari, Sisi Manis menjadi alternatif tempat singgah yang menarik, terutama bagi pengunjung taman Bendera Pusaka yang ingin mencari kesegaran di tengah aktivitas luar ruang.
Sisi Manis tidak hanya menjual es krim, tapi menawarkan sebuah pengalaman kecil yang menggabungkan rasa, ruang, dan makna bahwa bisnis juga bisa berjalan seiring dengan dampak sosial.
BACA JUGA
