Ramai Isu Siomay Berbahan Ikan Sapu-Sapu, Pemkot Jaksel Perketat Pengawasan Pangan
JAKARTA, sustainlifetoday.com — Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Selatan memperketat pengawasan terhadap peredaran siomay yang diduga menggunakan bahan ikan sapu-sapu. Langkah ini dilakukan untuk memastikan keamanan pangan di tengah kekhawatiran penggunaan bahan baku yang tidak layak konsumsi.
Pengawasan dilakukan melalui pembentukan tim terpadu yang melibatkan unsur Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) serta Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM).
“Kami harus bawa tim dari Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) dan Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) yang betul-betul mengerti makanan ini kandungannya ada ikan sapu-sapu atau tidak,” kata Wali Kota Jakarta Selatan Muhammad Anwar dikutip pada Kamis (23/4).
Pemkot Jaksel menegaskan pengawasan dilakukan secara terukur dan tidak bersifat represif untuk menghindari dampak terhadap pedagang kecil.
“Jangan sampai kita entar main sergap aja akhirnya kasihan pedagangnya,” ucap dia.
Selain pengawasan, pemerintah juga mengedepankan edukasi kepada pedagang terkait penggunaan bahan pangan yang aman dan layak konsumsi.
Sementara itu, Suku Dinas KPKP Jakarta Selatan mulai melakukan pemetaan wilayah sebagai dasar pelaksanaan inspeksi terhadap pedagang olahan hasil perikanan.
BACA JUGA
- El Nino Godzilla Ancam Krisis Air Bersih, Indonesia Hadapi Risiko Polikrisis
- Ekonomi Sirkular Bisa Tembus Rp500 Triliun, Waste4Change: Harus Benahi Sistem Sampah
- Rano Karno Klaim 100% Sampah Jakarta Terkelola, Emisi Ikut Turun
“Terkait sidak olahan pengolah hasil perikanan kita sudah mulai mapping dulu nih, saat ini nih nanti juga pastikan kita infokan ke teman-teman kapan memang kalau kita ada pergerakan,” ucap Arief.
Di sisi lain, Pemkot Jaksel juga memperkuat penanganan populasi ikan sapu-sapu di perairan. Bantuan alat tangkap telah didistribusikan ke seluruh kecamatan untuk mendukung operasi penangkapan.
“Kita sudah mulai mendistribusikan bantuan untuk peralatan tangkap di seluruh Kecamatan. Karena teman-teman dari kecamatan juga bersemangat untuk berpartisipasi dalam operasi penangkapan ikan sapu-sapu di wilayah masing-masing,” ucap dua.
Operasi penangkapan lanjutan dijadwalkan berlangsung pada awal Mei. Proses pemusnahan akan mengikuti rekomendasi Majelis Ulama Indonesia (MUI), yakni dengan mematikan ikan terlebih dahulu sebelum dikubur di lokasi yang telah ditentukan.
Selain dimusnahkan, pemerintah juga tengah mengkaji pemanfaatan ikan sapu-sapu sebagai bahan pakan ternak dan pupuk organik untuk meningkatkan nilai guna.
