Menag: Bahasa Agama Seperti Pahala dan Dosa Lebih Efektif Cegah Kerusakan Lingkungan
JAKARTA, sustainlifetoday.com – Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menilai upaya menjaga lingkungan perlu dilakukan dengan pendekatan yang lebih dekat dengan keseharian masyarakat. Salah satu cara yang ia dorong adalah teoekologi , yaitu pendekatan yang menghubungkan nilai-nilai teologis dengan isu ekologi yang menurutnya lebih efektif dalam membangun kesadaran publik terhadap keberlanjutan.
Nasaruddin menyampaikan bahwa konsep ini telah ia perkenalkan sejak awal masa jabatannya sebagai Menteri Agama. Pendekatan tersebut menempatkan bahasa agama sebagai medium utama untuk menjelaskan pentingnya pemeliharaan lingkungan.
“Saya melihat bahwa problem besar bangsa bahkan dunia di masa depan adalah problem lingkungan hidup. Nah, tidak mungkin bisa melakukan pemeliharaan lingkungan hidup dengan menggunakan bahasa politik, bahasa birokrasi. Tapi yang paling efektif itu adalah menggunakan bahasa agama,” ujarnya dikutip Selasa (9/12).
Ia menjelaskan bahwa masyarakat sering kali lebih mudah menerima ajaran atau nasihat melalui doktrin agama, termasuk ketika isu tersebut berkaitan dengan lingkungan. Konsep pahala dan dosa juga dinilai dapat menjadi instrumen yang kuat dalam mendorong perilaku yang lebih bertanggung jawab terhadap alam.
Baca Juga:
- Swiss-Belhotel Bangun Taman Bermain Ramah Anak di Bogor, Dorong Ruang Publik Berkelanjutan
- Eks Kepala BMKG Soroti Bencana Sumatra: “Kalau Murni Alam, Tidak Akan Sedahsyat Ini”
- Dorong Inklusivitas Sektor Maritim, Dirut IPCM Raih Women Empower Woman Award 2025
“Misalnya, kita dapat pahala kalau merawat lingkungan dan berdosa kalau kita merusak lingkungan. Jadi kalau konsep dosa/pahala ini dipakai untuk memelihara lingkungan, itu akan lebih efektif daripada bahasa-bahasa hukum,” jelasnya.
Nasaruddin menambahkan bahwa peraturan terkait perlindungan lingkungan sudah tersedia, tetapi pelanggaran tetap terjadi karena pendekatan hukum saja belum cukup menjangkau kesadaran masyarakat.
“Tapi kalau agama yang memberikan teguran, ‘Ini dosa loh kalau kita melakukan seperti ini’. Inilah pentingnya menggunakan bahasa agama dalam rangka memelihara lingkungan hidup,” ujarnya.
Baca Juga:
