WRI Indonesia Dorong Penguatan Sistem MRV untuk Tekan Emisi Metana Sektor Persampahan
Jakarta, sustainlifetoday.com – World Resources Institute (WRI) Indonesia mendorong pemerintah untuk memperkuat sistem pengukuran, pemantauan, verifikasi, dan pelaporan (measurement, reporting, and verification/MRV) guna mengoptimalkan tata kelola sampah dan menekan emisi gas metana secara terukur. Urgensi ini disampaikan melalui inisiatif SMART Waste Indonesia yang didukung Global Methane Hub dan telah diserahkan kepada Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) pada Rabu (19/8).
Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) KLH/BPLH, sekitar 96 persen dari 511 Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) di Indonesia masih menerapkan sistem open dumping. Pada 2025, Indonesia mencatatkan timbulan sampah mencapai 144.000 ton per hari, dengan tingkat pengelolaan baru menyentuh angka 25 persen. Dominasi sampah organik yang terurai tanpa oksigen di TPA memicu pelepasan emisi metana berskala besar sekaligus meningkatkan risiko kebakaran.
Guna mengatasi keterbatasan inventarisasi emisi yang selama ini bergantung pada estimasi umum, WRI Indonesia mengusulkan penggunaan metode Tier 2 dari Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC). Pendekatan ini memanfaatkan data aktivitas lokal, survei komposisi sampah, pemantauan drone dan sensor di TPA (seperti di TPA Benowo Surabaya dan TPA Galuga Bogor), serta pengembangan platform Methane Emission Toolbox (MET).
Mewakili Menteri Lingkungan Hidup/Kepala BPLH Mohammad Jumhur Hidayat, Direktur Mitigasi Perubahan Iklim KLH/BPLH, Haruki Agustina, menegaskan pentingnya kontribusi sektor limbah dalam target dekarbonisasi nasional.
“Pengelolaan sampah memiliki peran penting dalam agenda pembangunan rendah emisi dan penanganan perubahan iklim di Indonesia. Pemerintah terus mendorong sektor limbah untuk berkontribusi dalam pencapaian target pengurangan emisi gas rumah kaca nasional, salah satunya melalui penyusunan peta jalan sektor limbah,” katanya, dikutip dari siaran pers, Kamis (20/8).
BACA JUGA
- Awan Hujan Minim, Pramono Ungkap Operasi Modifikasi Cuaca di Jakarta Terkendala
- Menteri LH Kritik Negara Maju Soal Tanggung Jawab Iklim di Forum BRICS
- Usai 13 Hari Dilanda Karhutla, Wisata Gunung Bromo Kembali Dibuka 20 Agustus
Sementara itu, Country Director WRI Indonesia, Nirarta Samadhi, menggarisbawahi pentingnya perubahan paradigma pengelolaan sampah dari pendekatan konvensional kumpul–angkut–buang menuju penanganan terintegrasi sejak dari sumber.
“Inisiatif WRI melalui SMART Waste Indonesia menunjukkan bahwa mitigasi metana tidak dapat hanya dilakukan ketika sampah sudah berada di TPA. Upaya perlu dimulai dari pengurangan dan pemilahan sampah dari sumber, pengalihan dan pengolahan sampah organik, hingga peningkatan pengelolaan TPA dan pemanfaatan gas metana,” kata Nirarta.
Apresiasi juga datang dari Regional Lead Asia Global Methane Hub, Manjyot Ahluwalia, yang menilai langkah Indonesia dapat menjadi rujukan bagi negara-negara berkembang (Global South) dalam tata kelola sampah berbasis data iklim.
“Indonesia menunjukkan kepada negara-negara Global South bahwa penanganan emisi metana dari sektor persampahan dapat dilakukan melalui proses monitoring dan pelaporan yang transparan, pengelolaan sampah berbasis data, serta pengelolaan sampah yang responsif terhadap iklim, baik di tingkat nasional maupun subnasional. Inisiatif SMART Waste Indonesia menunjukkan bagaimana ilmu pengetahuan, teknologi, data, dan kolaborasi kelembagaan dapat membantu memperkuat basis bukti untuk pengambilan keputusan di sektor persampahan,” ujarnya.
Penguatan data dan MRV ini diharapkan menjadi pilar utama dalam mengakselerasi target Zero Waste Zero Emission (ZWZE) secara akurat dan berbasis bukti.
