Ubah Paradigma Eksploitasi Alam, Menag Dorong Pendidikan Berbasis Ekoteologi
Jakarta, sustainlifetoday.com – Kementerian Agama (Kemenag) resmi memperkenalkan modul pendidikan baru bernuansa ekoteologi yang diberi nama Kurikulum Cinta. Inisiatif ini dirancang untuk menanamkan nilai-nilai kepedulian ekologis serta kebiasaan menjaga kelestarian lingkungan hidup kepada para peserta didik sejak usia dini.
Menteri Agama, Nasaruddin Umar, menjelaskan dalam acara “Tobat Ekologis Menuju Sekolah Adiwiyata” di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Senin (12/10/2026), bahwa penyusunan kurikulum ini telah berjalan selama satu tahun terakhir guna mengintegrasikan kesadaran spiritualitas dengan pelestarian alam.
Pihaknya mencatat bahwa evaluasi atas uji coba penerapan kurikulum yang melibatkan ratusan pengawas madrasah serta pondok pesantren menunjukkan respons dan dampak sosial yang positif.
“Kini muncul kesadaran baru di kalangan pelajar untuk memperlakukan makhluk hidup lain dengan penuh kasih sayang,” kata Menag Nasaruddin Umar.
Menag memaparkan beberapa perubahan perilaku peserta didik di lapangan, seperti munculnya rasa empati terhadap keberadaan makhluk hidup kecil hingga kesadaran merawat hewan peliharaan secara sukarela.
“Muncullah sebuah kesadaran ‘Tat Tvam Asi’ dalam agama Hindu-Buddha, yakni ‘Engkau adalah aku, aku adalah engkau’. Bukan hanya antarmanusia, tetapi juga kepada tumbuh-tumbuhan dan binatang,” ujar Menag Nasaruddin di hadapan 650 peserta siswa-siswi jenjang SD, SMP, dan SMA/sederajat dari berbagai daerah.
BACA JUGA
- Presiden Prabowo Resmikan Ekspor Perdana Baterai Listrik dan Groundbreaking Hilirisasi Nikel Weda Bay
- Dukung Koalisi Global, Komdigi Tegaskan Perlindungan Anak Harus Masuk dalam Tata Kelola AI
- Soroti Tingginya Konsumsi Air dan Listrik Data Center AI, Kemenko Perekonomian Siapkan Solusi
Menag menekankan bahwa pendekatan ekoteologi ini bertujuan menggeser cara pandang generasi muda dari paradigma eksploitatif menjadi pola hubungan yang harmonis dan kolaboratif dengan ekosistem.
Melalui langkah strategis ini, Kemenag berupaya mendukung gagasan-gagasan cerdas dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) agar ekosistem bumi dapat terus berkontribusi secara berkelanjutan bagi kesejahteraan umat manusia.
Menag turut mengaitkan kearifan pandangan teologis tersebut dengan temuan sains modern serta pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), merujuk pada literatur ilmiah internasional seperti karya Karen Armstrong yang berjudul The Sacred Nature.
“AI juga membuktikan bahwa tumbuh-tumbuhan itu semuanya bersuara. Ada AI yang mampu melipatgandakan 20.000 kali suara itu dan ternyata suara dedaunan itu ditemukan bertasbih. Jadi mari kita kembali bersahabat dengan alam. Jangan menjadikan alam itu hanya sebagai objek, tapi jadikan sebagai partner dalam mendukung kesejahteraan hidup kita bersama,” ucap Menag Nasaruddin Umar.
