Pesawat Listrik Terbesar Dunia Siap Mengudara Demi Wujudkan Aviasi Ramah Lingkungan
Jakarta, sustainlifetoday.com – Pesawat listrik terbesar di dunia, X1, buatan Heart Aerospace segera memulai uji terbang perdana setelah resmi mengantongi izin dari Badan Penerbangan Federal Amerika Serikat (FAA). Langkah ini menjadi tonggak penting dalam inovasi penerbangan ramah lingkungan untuk menekan emisi karbon global.
FAA menerbitkan Sertifikat Kelayakan Udara Khusus dalam Kategori Eksperimental atau SAC-EC usai melakukan inspeksi langsung terhadap demonstrator pesawat tersebut di Bandara Internasional Plattsburgh, New York.
Izin ini memberikan lampu hijau bagi produsen pesawat asal California tersebut untuk segera memulai uji terbang. Sebelumnya, Heart Aerospace telah bekerja sama dengan FAA selama lebih dari satu tahun dan merampungkan serangkaian pengujian darat guna memastikan keandalan teknologi kelistrikannya.
“Mendapatkan otorisasi penerbangan FAA membawa program X1 ke ambang penerbangan perdana,” ujar Pendiri sekaligus CEO Heart Aerospace, Anders Forslund, dalam keterangan resminya, seperti dilansir Robb Report, Rabu (29/7).
“Pencapaian ini mencerminkan kerja keras tim rekayasa dan uji terbang Heart, serta hubungan kerja sama erat yang telah kami bangun dengan FAA,” tambahnya.
Membawa dimensi bentang sayap 32 meter, panjang badan pesawat 23 meter, dan bobot lepas landas di atas 11,3 ton, X1 diproyeksikan memecahkan rekor sebagai pesawat listrik terbesar yang pernah mengudara. Rekor sebelumnya dicetak oleh modifikasi pesawat Cessna Caravan 208B di Washington pada 2020 lalu.
BACA JUGA
- KLH Kumpulkan Ratusan Penggiat Lingkungan Bahas Solusi Pencemaran Sungai Nasional
- KLH Jadikan Kearifan Lokal Fondasi Utama Penyelesaian Krisis Ekologi di Daerah
- Kementerian Kehutanan Konfirmasi Kelangsungan Hidup Anak Harimau Sumatra di Kerinci Seblat
Kehadiran X1 berfungsi sebagai laboratorium terbang untuk menguji teknologi hijau yang kelak diimplementasikan pada pesawat komersial ES-30. Model produksi massal ES-30 tersebut dirancang sebagai pesawat hybrid-electric jarak pendek berkapasitas 30 penumpang.
Berbekal dua motor listrik dan dua mesin turboprop, pesawat komersial ini kelak dapat beroperasi menggunakan tenaga baterai murni maupun bahan bakar penerbangan berkelanjutan (Sustainable Aviation Fuel/SAF). Kombinasi inovatif ini diharapkan mampu menekan biaya operasional maskapai secara efisien sekaligus memangkas jejak karbon secara signifikan.
Secara teknis, ES-30 diklaim memiliki jangkauan terbang hibrida hingga 800 kilometer dan jarak tempuh daya listrik murni sejauh 200 kilometer. Waktu pengisian daya baterai juga tergolong cepat, yakni hanya sekitar 30 menit, dengan keunggulan mampu mendarat di landasan pacu pendek sepanjang 1.100 meter. Proses sertifikasi pengoperasian ES-30 ditargetkan rampung pada 2031 mendatang, mengandalkan data dari program uji coba X1.
“Dengan sertifikat yang telah kami pegang, fokus penuh kami kini tertuju pada penerbangan. Kami siap menerbangkan X1 ke udara,” tegas Forslund.
Saat ini, armada demonstrator X1 tengah menjalani persiapan akhir menjelang penerbangan pertamanya di New York yang diperkirakan akan berlangsung dalam beberapa hari ke depan.
