Studi: Udara dan Minuman Harian Banyak Mengandung Mikroplastik!
JAKARTA, sustainlifetoday.com — Mikroplastik, partikel plastik berukuran sangat kecil yang lebih halus dari rambut manusia, kini ditemukan hampir di semua minuman dan bahkan di udara yang kita hirup setiap hari. Sejumlah penelitian terbaru menunjukkan paparan manusia terhadap mikroplastik jauh lebih tinggi dari yang diperkirakan sebelumnya, baik melalui konsumsi maupun pernapasan.
Riset terbaru yang dipublikasikan oleh University of Birmingham, Inggris, dikutip pada Minggu (5/10) mengungkap bahwa seluruh 155 sampel minuman populer yang diuji, termasuk air mineral, teh, kopi, jus, dan minuman bersoda mengandung mikroplastik. Hasil ini menegaskan bahwa hampir tidak ada minuman yang benar-benar bebas dari partikel plastik.
Minuman panas seperti teh dan kopi dilaporkan memiliki kadar mikroplastik lebih tinggi dibandingkan minuman dingin. Peneliti menjelaskan bahwa suhu tinggi dan keasaman mempercepat pelepasan partikel plastik dari kemasan. Tak hanya botol plastik, kaleng aluminium dan botol kaca juga bisa menjadi sumber kontaminasi.
Temuan menarik datang dari lembaga ANSES di Prancis yang menunjukkan bahwa minuman dalam botol kaca justru mengandung hingga 100 partikel mikroplastik per liter, atau 5–50 kali lebih banyak dibanding kemasan plastik. Sumbernya diduga berasal dari cat pada tutup logam yang tergerus selama proses produksi dan distribusi.
Sementara studi lain dalam PLOS One menemukan bahwa soda dan teh dingin mengandung rata-rata 7 hingga 10 partikel mikroplastik per liter. Bahkan kantong teh sintetis yang digunakan untuk menyeduh air panas bisa melepaskan jutaan partikel nano dan mikroplastik ke dalam secangkir teh.
Udara Ruangan Jadi Sumber Paparan Baru
Tak hanya lewat makanan dan minuman, mikroplastik kini juga ditemukan di udara ruangan. Penelitian dari Université de Toulouse memperkirakan bahwa manusia dapat menghirup hingga 68.000 partikel mikroplastik setiap hari, sebagian besar dari udara di dalam rumah, kantor, atau mobil.
Baca Juga:
- Mahasiswa UGM Kembangkan Bioplastik dari Kulit Pisang untuk Dukung Zero Waste
- KLH Tuntut Dua Perusahaan atas Cemaran Radioaktif Cesium-137 di Cikande
- DLH DKI Kerahkan 2.100 Petugas Kebersihan untuk Kawal HUT ke-80 TNI
Konsentrasi tertinggi ditemukan di kabin kendaraan, dengan rata-rata lebih dari 2.000 partikel per meter kubik, sementara udara di rumah mencapai sekitar 500 partikel per meter kubik. Ukuran partikel yang sangat kecil (1–10 mikrometer) memungkinkan mikroplastik menembus hingga paru-paru bagian dalam (alveoli) dan berpotensi memicu peradangan atau gangguan pernapasan jangka panjang.
Temuan ini juga menunjukkan bahwa perkiraan paparan mikroplastik yang lama hanya beberapa ratus partikel per hari, ternyata seratus kali lebih rendah dari kenyataan saat ini.
Sejumlah penelitian telah menemukan mikroplastik di paru-paru, hati, ginjal, dan bahkan plasenta manusia. Meski dampak pastinya terhadap kesehatan belum sepenuhnya diketahui, para ilmuwan memperingatkan potensi risiko seperti peradangan kronis, stres oksidatif, gangguan hormon, hingga perubahan mikrobiota usus.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyerukan perlunya penelitian lebih lanjut untuk memahami efek biologis dari partikel mikroplastik dan bahan kimia yang menempel di permukaannya. Namun, para ahli sepakat bahwa pencegahan paparan sedini mungkin sangat penting.
Cara Mengurangi Paparan Mikroplastik
Badan Perlindungan Lingkungan Illinois dan sejumlah peneliti lingkungan merekomendasikan beberapa langkah sederhana untuk menekan paparan mikroplastik:
- Gunakan wadah non-plastik seperti kaca atau stainless steel untuk air dan makanan.
- Kurangi penggunaan plastik sekali pakai, termasuk botol minum, sedotan, dan kemasan makanan.
- Gunakan filter HEPA di rumah untuk mengurangi partikel mikroplastik di udara.
- Cuci pakaian sintetis lebih jarang, atau gunakan kantong penyaring mikroplastik saat mencuci.
- Pilih bahan pakaian alami seperti katun, wol, atau sutra.
- Gunakan kantong teh berbahan kertas atau logam alih-alih kantong sintetis.
