Studi: Teknologi Panel Surya Lawas Ternyata Lebih Tahan Lama
Jakarta, sustainlifetoday.com — Panel surya generasi awal yang dipasang di Swiss sejak akhir 1980-an terbukti masih beroperasi secara stabil setelah lebih dari tiga dekade. Temuan ini mematahkan anggapan umum industri bahwa panel surya hanya memiliki umur pakai terbatas sesuai masa garansi pabrikan.
Dalam sebuah studi lintas negara, peneliti menelusuri kinerja enam sistem fotovoltaik yang dipasang antara 1987 hingga 1993 di berbagai wilayah Swiss. Lokasi pemasangan mencakup area lembah dengan iklim sedang hingga kawasan Alpen yang bersalju. Hasilnya, seluruh sistem tersebut masih mampu menghasilkan listrik secara konsisten setelah lebih dari 30 tahun beroperasi.
Studi tersebut mencatat rata-rata penurunan kinerja panel hanya sekitar 0,24 persen per tahun. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan tingkat degradasi yang selama ini umum dilaporkan dalam berbagai literatur ilmiah. Dengan laju penurunan tersebut, sebagian besar panel masih mempertahankan lebih dari 80 persen kapasitas awalnya.
Peneliti dari University of Applied Sciences and Arts of Southern Switzerland, Ebrar Özkalay, menyebut temuan ini menunjukkan teknologi fotovoltaik jauh lebih tahan lama dibandingkan asumsi industri selama ini.
“(Data) ini menunjukkan fotovoltaik dapat bertahan lebih lama (dari yang diperkirakan) dan ini pesan penting bagi industri (panel surya),” kata Özkalay, seperti dikutip dari ZME Science, Senin (5/1).
Temuan di Swiss tersebut sejalan dengan hasil pengujian di Prancis pada 2024 yang dilakukan oleh organisasi nirlaba energi terbarukan Hespul. Dalam pengujian tersebut, panel surya atap yang dipasang sejak 1992 masih beroperasi dengan hampir 80 persen dari kapasitas awalnya setelah 31 tahun pemakaian.
Hespul menilai hasil ini memperkuat posisi teknologi fotovoltaik sebagai tulang punggung pasokan listrik bersih jangka panjang, tidak hanya di Prancis, tetapi juga secara global.
Baca Juga:
- Menko PMK Tekankan Pemulihan Pascabencana Berbasis Keberlanjutan di Aceh dan Sumatra
- Meski Dilarang, Plastik Sekali Pakai Masih Merajalela di Eropa
- Anggota DPR RI Sebut Laut Penghasil Oksigen Terbesar Dunia, Ini Kenyataanya!
Penelitian di Swiss juga mengungkap bahwa lokasi pemasangan sangat memengaruhi laju penuaan panel. Panel yang terpasang di dataran rendah cenderung mengalami degradasi lebih cepat akibat suhu permukaan yang dapat melampaui 80 derajat Celsius pada musim panas, sehingga memicu tekanan material dan penurunan konduktivitas.
Sebaliknya, panel yang dipasang di kawasan Alpen justru menunjukkan ketahanan lebih baik. Meski terpapar radiasi ultraviolet tinggi dan fluktuasi suhu harian yang ekstrem, panel-panel tersebut mengalami penurunan kinerja yang lebih lambat.
Faktor penting lainnya terletak pada kualitas material. Panel generasi awal umumnya menggunakan enkapsulan EVA yang kuat, lapisan belakang Tedlar, serta struktur kaca dan foil yang lebih kokoh. Kombinasi ini membuat panel lebih tahan terhadap proses penuaan jangka panjang.
Namun, penelitian juga mencatat sejumlah panel yang diproduksi sebelum penggunaan penstabil ultraviolet mengalami perubahan warna, delaminasi, hingga kegagalan sambungan solder yang berdampak pada penurunan efisiensi.
Di tengah pesatnya ekspansi energi surya global—yang kini menyumbang lebih dari 8 persen pasokan listrik dunia dan mendominasi penambahan kapasitas energi terbarukan baru pada 2023—keandalan jangka panjang panel menjadi isu krusial. Peneliti mengingatkan bahwa strategi menekan biaya produksi dengan mengorbankan kualitas material berisiko memperpendek umur pakai teknologi energi bersih.
Pengalaman di Gujarat, India, menjadi contoh nyata. Banyak instalasi surya yang dibangun pada periode 2009–2013 mengalami degradasi parah dan harus diganti setelah 8 hingga 12 tahun akibat rendahnya kualitas manufaktur serta minimnya perawatan.
