Pencemaran Udara Regional Memburuk, Kemenhut Fokuskan Karhutla di Kalteng
Jakarta, sustainlifetoday.com – Peningkatan laju eskalasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali berdampak pada penurunan kualitas udara di kawasan regional. Berdasarkan data Sistem Manajemen Indeks Pencemaran Udara (APIMS) Departemen Lingkungan Hidup (DOE) Malaysia, sebanyak 14 wilayah mencatat angka Indeks Pencemaran Udara (IPU) dengan kategori tidak sehat (di atas 100) per Ahad (11/10/2026) pukul 10.00 pagi.
Pasir Gudang di Johor menjadi wilayah dengan kualitas udara terburuk usai menembus IPU 179. Tujuh stasiun lain di Johor juga mencatat kriteria tidak sehat, mencakup Larkin (178), Kota Tinggi (165), Tangkak (163), Segamat (161), Pengerang (160), Kluang (159), dan Batu Pahat (145).
Dampak paparan asap juga meluas ke kawasan pantai timur dan wilayah tengah. Stasiun pemantau di Terengganu mencatat tingkat IPU tidak sehat di Kuala Terengganu (157), Kemaman (156), dan Paka (144). Sementara di Pahang, Balok Baru Kuantan berada di angka 159 dan Rompin pada 152. Adapun wilayah ibu kota Kuala Lumpur mencatat tingkat IPU 156 di Cheras.
Secara keseluruhan, dari 68 stasiun pemantau kualitas udara regional, empat wilayah mencatat kategori baik (IPU di bawah 50), 50 stasiun berada pada rentang sedang (51–100), dan sisanya masuk dalam kategori tidak sehat (101–200).
Menanggapi eskalasi titik panas (hotspot), Kementerian Kehutanan (Kemenhut) Republik Indonesia mengonfirmasi sedang memfokuskan upaya pemadaman darurat darat dan udara di Kalimantan Tengah. Wilayah tersebut menjadi prioritas utama setelah mencatatkan kenaikan konsentrasi hotspot tertinggi di antara enam provinsi rawan karhutla.
Merujuk data Sistem Informasi Deteksi Dini Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (SiPongi), total hotspot nasional dengan tingkat kepercayaan tinggi (high confidence) melonjak menjadi 437 titik pada Jumat (9/10/2026), naik dari 387 titik pada hari sebelumnya.
Di Kalimantan Tengah, hotspot high confidence melesat menjadi 122 titik dari sebelumnya 86 titik. Kenaikan juga tercatat di Jambi menjadi 15 titik dan Kalimantan Barat menjadi 13 titik. Di sisi lain, hotspot di Sumatera Selatan melandai ke angka 107 titik dan Kalimantan Selatan turun menjadi 13 titik, sementara Riau tercatat nihil. Akumulasi pada enam provinsi prioritas mencapai 270 titik panas.
“Perkembangan tersebut menunjukkan adanya pergeseran konsentrasi hotspot antarwilayah,” kata Kementerian Kehutanan dalam pernyataan resminya, Sabtu (10/10/2026).
BACA JUGA
- Bangun Ekosistem Bisnis Inklusif, Sampoerna Fasilitasi Pembinaan Ekspor Bagi UMKM
- Atasi Polusi Sektor Transportasi, WRI Indonesia Dorong Sanur Jadi Kawasan Rendah Emisi
- Terapkan Pemeliharaan Berbasis Data, Patra Logistik Optimalkan Keselamatan Distribusi BBM
Pemerintah mengklarifikasi bahwa keberadaan hotspot merupakan indikasi awal anomali suhu permukaan tanah berbasis pencitraan satelit, sehingga tidak serta-merta mencerminkan total luas areal yang terbakar.
Oleh karena itu, verifikasi lapangan (groundcheck) terus dikerahkan guna memastikan kondisi riil serta memimpin tindakan pemadaman langsung di titik-titik krusial.
Kemenhut menambahkan bahwa pemantauan kualitas udara terus diukur berdasarkan parameter konsentrasi partikulat halus PM2,5. Meskipun sebagian besar wilayah Indonesia berada pada kategori baik hingga sedang, kantong-kantong udara tidak sehat hingga berbahaya masih terdeteksi di sejumlah area Sumatera, Kalimantan, dan Papua akibat dinamika pergerakan angin.
Pemerintah mengimbau masyarakat di kawasan terdampak untuk membatasi aktivitas luar ruangan serta menggunakan pelindung pernapasan.
“Perhatian khusus perlu diberikan kepada anak-anak, ibu hamil, lanjut usia, serta masyarakat dengan gangguan pernapasan maupun penyakit kronis,” kata Kementerian.
