Hamas: Jangan Jadikan Board of Peace Kedok Israel untuk Lanjutkan Perang di Gaza!
Jakarta, sustainlifetoday.com — Kelompok Hamas mendesak Board of Peace (BoP) bentukan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk segera menghentikan serangan Israel ke Jalur Gaza, Palestina, meski kesepakatan gencatan senjata masih berlangsung sejak dimediasi Amerika Serikat pada Oktober 2025.
Pernyataan tersebut muncul menjelang pertemuan resmi pertama BoP yang dijadwalkan berlangsung pada Kamis (19/2) di Washington, Amerika Serikat.
Pertemuan BoP berlangsung di tengah kritik luas yang menyebut dewan tersebut tidak mewakili kepentingan Palestina dan dinilai mengakomodasi agenda Israel dan Amerika Serikat.
“Kami memperingatkan agar pihak [Israel] tidak menggunakan dewan ini sebagai kedok untuk melanjutkan perang di Gaza dan mencegah rekonstruksi,” ucap juru bicara Hamas, Hazem Qassem, dalam pernyataan video, dikutip Al Jazeera pada Rabu (18/2).
“Perang genosida terhadap Gaza masih berlangsung, melalui pembunuhan, pengusiran, blokade, dan kelaparan, hingga saat ini,” kata Qassem menambahkan.
Qassem menegaskan dewan bentukan Trump perlu melibatkan komite teknokrat Palestina untuk mengelola Gaza dan memulai proses rekonstruksi skala besar.
Israel dilaporkan masih melancarkan serangan di Jalur Gaza. Serangan terbaru disebut menyasar wilayah Tuffah di Gaza utara dan Khan Younis di selatan, dengan penggunaan tank dan artileri yang menembaki wilayah sipil. Korban luka dilaporkan dibawa ke Rumah Sakit al-Awda.
BACA JUGA:
- Pasar Mobil Listrik Indonesia Beradaptasi Usai Insentif Dihentikan
- KLH Dukung MUI Soal Fatwa Haram Membuang Sampah ke Sungai, Danau, dan Laut
- Kirim Pasukan mulai April 2026, Indonesia Jadi Pelopor Misi Gaza di Bawah Board of Peace
Selain itu, kapal perang Israel dilaporkan menembaki nelayan serta menahan dua warga Palestina. Pembongkaran permukiman di wilayah utara dan selatan Gaza juga dilaporkan terus berlangsung.
Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, sejak gencatan senjata dimulai pada 10 Oktober 2025, lebih dari 600 warga Palestina tewas dan 1.600 lainnya mengalami luka akibat serangan yang dinilai melanggar kesepakatan tersebut.
Israel juga disebut masih membatasi akses bantuan kemanusiaan serta mobilitas pasien yang membutuhkan perawatan medis ke luar negeri.
Sementara itu, juru bicara Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres, yaitu Stephane Dujarric, menyatakan kurang dari 60 persen bantuan dari Mesir diizinkan masuk ke Gaza.
“Pergerakan kemanusiaan yang membutuhkan koordinasi dengan pihak berwenang Israel juga terus menghadapi hambatan… Tim kami di lapangan sedang berkomunikasi dengan pihak berwenang untuk memperjelas kendala ini dan mencari solusi agar operasi kami bisa berjalan,” ujar Dujarric.
Sejak diluncurkan pada Forum Ekonomi Dunia di Davos pada Januari, Board of Peace telah mendapat dukungan sedikitnya 19 negara sebagai anggota pendiri.
Dewan tersebut awalnya dibentuk untuk mengawasi gencatan senjata dan proses rekonstruksi Gaza, namun kemudian diperluas untuk menangani konflik internasional. Langkah ini memicu kekhawatiran sejumlah pihak bahwa BoP berpotensi menjadi pesaing peran PBB dalam penyelesaian konflik global.
