Dukung Penerbangan Hijau, Pertamina Usulkan Bauran SAF untuk Rute Jakarta-Bali
Jakarta, sustainlifetoday.com – PT Pertamina (Persero) mendorong akselerasi dekarbonisasi di industri penerbangan domestik melalui rencana pencampuran (blending) 1 persen bahan bakar ramah lingkungan atau Sustainable Aviation Fuel (SAF). Langkah awal ini diproyeksikan menyasar rute penerbangan pariwisata populer seperti Jakarta-Bali guna menekan emisi gas rumah kaca sekaligus meminimalisasi lonjakan harga tiket pesawat.
Pemilihan rute pariwisata didasarkan pada segmentasi pasar yang dinilai lebih fleksibel terhadap penyesuaian biaya demi keberlanjutan ekosistem. Deputy President Director in Pertamina Group, Oki Muraza, menjelaskan bahwa komponen bahan bakar menyumbang sekitar 30 persen dari total biaya operasional maskapai.
“Usulan kami adalah memulai dengan 1 persen untuk rute yang affordability (keterjangkauan)-nya tidak menjadi masalah. Sebagai contoh, Jakarta-Bali. Ketika orang ke Bali untuk berlibur, bisa dimulai dari trayek-trayek itu. Harapannya harga tidak berubah signifikan,” ujar Oki dalam Pekan Riset Sawit Indonesia Tahun 2026, Senin (20/7).
Dalam memproduksi SAF, Pertamina mengintegrasikan prinsip ekonomi sirkular dengan menyerap bahan baku limbah berupa minyak jelantah (used cooking oil/UCO).
Perseroan tidak membangun kilang khusus dari nol, melainkan memodifikasi unit Fluid Catalytic Cracking (FCC) atau RFCC eksisting menggunakan teknologi co-processing.
BACA JUGA
- Wapres Tinjau PSEL Keramasan Palembang yang Siap Olah 1.000 Ton Sampah Jadi Listrik
- Presiden Prabowo Tinjau Mesin Pemusnah dan Pengolah Sampah di Malang
- Program Public Transportation Day ADHI Sukses Pangkas Emisi Karbon Hingga 89 Persen
Tantangan utama saat ini adalah mengumpulkan pasokan minyak jelantah berskala besar dengan harga yang terjangkau. Pertamina menyiapkan tiga kilang untuk co-processing, yakni TDHT RU IV Cilacap, LCO Treater RU VI Balongan, dan HCU RU II Dumai, serta satu biorefinery khusus di Cilacap yang diproyeksikan mampu menyerap 300.000 ton bahan baku per tahun.
Selain minyak jelantah, uji coba pemanfaatan oli bekas juga tengah dieksplorasi bersama para akademisi.
“SAF ini kami sudah banyak bekerja sama dan kita sudah uji terbang beberapa kali. Mudah-mudahan juga kami bisa dorong. SAF ini juga kami siap secara teknologi baik co-processing maupun nanti khusus di kilang nabati. HVO atau hidrobiodiesel yang juga bisa kami produksi bersamaan dengan SAF,” ucapnya.
Untuk menjamin kemandirian teknologi SAF, Pertamina telah menjalin kolaborasi dengan Teknik Kimia ITB selama lebih dari 20 tahun dalam pengembangan katalis, yang kini diproduksi secara domestik oleh PT Katalis Sinergi Indonesia (PT KSI).
Ketersediaan pasokan minyak jelantah dalam skala masif tidak hanya akan dialokasikan untuk aviasi, tetapi juga untuk memproduksi Used Cooking Oil Methyl Ester (UCOME), serupa dengan produksi Fatty Acid Methyl Ester (FAME).
“Ini juga ada pasarnya di sebagai blending untuk marine fuel oil,” ujar Oki.
