Atasi Krisis Sampah di Mataram, Kementerian PU Bangun TPST Berkapasitas 60 Ton per Hari
Jakarta, sustainlifetoday.com – Kementerian Pekerjaan Umum (PU) membangun Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Kebon Talo di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), dengan kapasitas pengolahan mencapai 60 ton sampah per hari. Fasilitas tersebut dibangun untuk memperkuat sistem pengelolaan sampah perkotaan sekaligus mendukung peningkatan kualitas lingkungan dan sektor pariwisata daerah.
Menteri PU Dody Hanggodo mengatakan, TPST Kebon Talo dibangun di atas lahan seluas 1,48 hektare dan akan melayani secara komprehensif kawasan Kecamatan Ampenan serta Kecamatan Sekarbela.
“Pembangunan TPST Kebon Talo menjadi bagian dari langkah pemerintah menjawab tantangan pengelolaan sampah di Kota Mataram yang menghasilkan sekitar 425 ton sampah per hari,” ujar Dody, Senin (10/8).
Dody menyampaikan, kebutuhan infrastruktur persampahan semakin mendesak setelah penutupan TPA Regional Kebon Kongok yang menyebabkan kapasitas pengelolaan sampah menjadi sangat terbatas.
Dody mengatakan, pemerintah sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto terus mempercepat penanganan persoalan sampah melalui penguatan infrastruktur pengelolaan sampah dan pemanfaatan teknologi yang mampu mengubah sampah menjadi sumber daya bernilai.
“Ke depan, gunungan sampah akan kita ubah menjadi listrik. Tapi yang lebih penting, kita ubah dulu budaya kita. Hentikan membuang sampah ke sungai dan laut. Karena ketika kita membuang sembarangan, alam akan menghukum kita kembali, misalnya banjir dari sungai, rob dari laut,” ucap Dody.
BACA JUGA
- Beri Kritik Keras ke Zulkifli Hasan dan Jumhur Hidayat, WALHI: PSEL Solusi Palsu Pengelolaan Sampah
- Dukung Target GMP, IESR Susun Peta Jalan Penurunan Emisi Metana Sektor Energi
- TNGGP Tutup Jalur Pendakian Gunung Gede Pasca-Kebakaran di Alun-Alun Suryakencana
Ia menjelaskan, TPST Kebon Talo mengusung konsep pengelolaan sampah terpadu, di mana sampah yang masuk tidak sekadar dikumpulkan, melainkan dipilah dan diolah secara sistematis guna mereduksi volume sampah yang berakhir di tempat pemrosesan akhir (TPA).
Fasilitas modern ini dilengkapi teknologi pemilahan otomatis yang memisahkan sampah organik, anorganik, logam, dan residu. Selain itu, TPST juga memanfaatkan teknologi Solid Recovered Fuel (SRF) guna menghasilkan bahan bakar alternatif sekaligus mendongkrak tingkat daur ulang.
Dody memaparkan, bangunan utama TPST berupa hanggar pengolahan seluas 2.592 meter persegi yang didukung fasilitas kantor operasional, pos operator jembatan timbang, ruang panel dan powerhouse, serta berbagai prasarana penunjang lainnya. Sistem pengolahan akan dijalankan melalui dua lini utama, yaitu lini organik dan lini RDF/anorganik agar proses berlangsung efisien, ramah lingkungan, serta bernilai ekonomi.
“Pekerjaan konstruksi TPST Kebon Talo telah dimulai sejak 12 Juni 2026 dan ditargetkan rampung pada 31 Desember 2026 dengan proyeksi masa layanan selama 20 tahun,” sambung Dody.
Ia menambahkan, pembangunan TPST Kebon Talo merupakan bagian dari komitmen Kementerian PU dalam memperkuat pelayanan infrastruktur dasar sektor persampahan. Sejalan dengan Visi PU 608, ketersediaan infrastruktur persampahan yang andal diharapkan dapat meningkatkan kualitas lingkungan perkotaan, mendukung pertumbuhan ekonomi daerah, serta mewujudkan kota yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan.
