Menag Nasaruddin Umar: Menjaga Lingkungan Adalah Zikir Sosial
JAKARTA, sustainlifetoday.com — Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menegaskan bahwa menjaga lingkungan bukan sekadar tugas ekologis, melainkan juga bentuk spiritualitas sosial. Ia menyebut, merawat bumi merupakan manifestasi dari zikir sosial, refleksi kesadaran iman yang menuntun manusia untuk menjaga keseimbangan alam.
“Melalui penyelenggaraan STQH ini, kita tidak hanya menumbuhkan cinta kepada wahyu, tetapi juga menyemai semangat ekoteologi. Merawat lingkungan adalah bentuk zikir sosial,” ujar Menag dalam pembukaan Seleksi Tilawatil Qur’an dan Musabaqah Al-Hadits (STQH) Nasional XXVIII Tahun 2025 di Tugu Persatuan, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara, dikutip dari laman Kementerian Agama, Senin (13/10).
Menurut Menag, setiap ayat Al-Qur’an yang berbicara tentang alam selalu menyiratkan pesan tanggung jawab terhadap keseimbangan dan keadilan ekologis. Karena itu, pemahaman spiritual tidak bisa dilepaskan dari kepedulian terhadap lingkungan dan sesama makhluk hidup.
Tahun ini, STQH mengangkat tema “Syiar Al-Qur’an dan Hadis: Merawat Kerukunan, Melestarikan Lingkungan”, tema yang dinilai relevan dengan konteks sosial dan ekologis saat ini, di tengah meningkatnya ketegangan sosial dan tantangan krisis iklim.
Menag menegaskan bahwa STQH bukan hanya ajang perlombaan, melainkan ruang pembelajaran nilai-nilai ilahiah dan pembinaan generasi Qur’ani yang unggul, tangguh, serta berdaya saing dalam menghadapi dinamika global.
“Di era disrupsi ini, para penghafal Al-Qur’an dan hadis menjadi oase spiritual sekaligus penjaga nilai. Mereka adalah tiang peradaban,” ujarnya.
Ia menambahkan, pembinaan sumber daya manusia Qur’ani menjadi ruh utama pelaksanaan STQH. Nilai-nilai Al-Qur’an dan hadis diharapkan dapat diterapkan secara nyata dalam kehidupan, termasuk di bidang pendidikan, pekerjaan, kebijakan publik, dan ruang digital.
“Al-Qur’an dan hadis harus menjadi sumber nilai dalam membangun masyarakat yang merangkul keberagaman, menjunjung persaudaraan, dan menjamin keadilan bagi seluruh lapisan,” ungkap Menag.
Lebih jauh, gelaran STQH juga dianggap sejalan dengan agenda pembangunan berkelanjutan, khususnya dalam memperkuat kualitas manusia Indonesia. Hal ini tercermin dalam Asta Cita Presiden Republik Indonesia, terutama cita keempat dan kedelapan, yakni membangun manusia yang berdaya saing dan memperkokoh toleransi antarumat beragama.
Selain menjadi ajang syiar keagamaan, STQH turut mendorong pemberdayaan ekonomi lokal melalui pameran UMKM, bazar rakyat, dan promosi produk lokal. Pendekatan ini memperkuat semangat sustainability yang menyatukan aspek spiritual, sosial, dan ekonomi.
“Keberkahan wahyu tidak hanya menghidupkan jiwa, tetapi juga harus menjelma menjadi kesejahteraan umat di bumi,” tandas Menag.
