Ribuan Titik Panas Karhutla Terdeteksi di Habitat Satwa, Geopix Gugat Komitmen RSPO
Jakarta, sustainlifetoday.com – Komitmen keberlanjutan industri minyak sawit global kembali dipertanyakan setelah organisasi pengkampanye lingkungan dan konservasi satwa, Geopix, menemukan puluhan ribu titik panas (hotspot) di area konsesi perusahaan anggota Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO). Lebih memprihatinkan, sebaran titik panas tersebut terdeteksi tumpang tindih secara masif dengan ruang hidup satwa liar terancam punah, termasuk orangutan kalimantan, harimau sumatra, dan gajah sumatra.
Berdasarkan hasil studi pemantauan Geopix sepanjang rentang 1 Juni hingga 28 Oktober 2026, tercatat sebanyak 23.376 titik panas berada di konsesi anggota RSPO yang tumpang tindih dengan wilayah jelajah orangutan di Kalimantan. Selain itu, terdeteksi pula 100 titik panas di area habitat harimau sumatra serta 11 titik panas yang melingkupi lanskap jelajah gajah sumatra.
Senior Wildlife Campaigner Geopix, Annisa Rahmawati, menilai fenomena kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di area bertaraf sertifikasi hijau menunjukkan lemahnya pengawasan standar ekologis organisasi tersebut.
“Geopix mendesak RSPO untuk membuka daftar anggota yang terhubung dengan kebakaran hutan dan lahan, termasuk para pemasok serta pemasok pihak ketiga mereka,” kata Annisa, dalam Konferensi Pers di Jakarta, Senin (2/11/2026).
BACA JUGA
- SustainLife Today Kembali Gelar ESG Initiative Awards 2026, Sambut Efektivitas Regulasi Baru OJK
- OJK Perketat Aturan Pelaporan 2027, Korporasi Dituntut Buktikan Dampak ESG Terukur
- Tuntutan Transparansi Menguat, Kepemimpinan Korporasi Kini Diuji Lewat Dampak ESG Terukur
Hasil studi Geopix mengungkapkan bahwa konsentrasi titik panas di habitat orangutan kalimantan terdeteksi di area konsesi milik grup-grup perkebunan besar. Di antaranya First Resources Ltd dengan 3.763 titik panas, Bumitama Agri Ltd (3.439 titik panas), Golden Agri Resources Ltd (2.668 titik panas), serta Wilmar International Ltd (1.679 titik panas), yang petingginya sempat dipanggil oleh otoritas Singapura.
Temuan pemetaan spasial ini berbanding lurus dengan kondisi krisis di lapangan. Pada Oktober lalu, Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) mengevakuasi 53 individu orangutan korban karhutla di Kalimantan Barat. Sebagian besar satwa tersebut dievakuasi dari area perkebunan kelapa sawit PT KALE (terafiliasi First Resources) dan sekitarnya, termasuk dari zona bernilai konservasi tinggi (High Conservation Value/HCV) yang seharusnya menjadi ruang aman perlindungan satwa.
BACA JUGA
- Luluskan 50 Teknisi PLTS, ZonaEBT Rampungkan Program SINAR 2026 untuk Koperasi Desa
- Dampak Karhutla, Krisis Kabut Asap Lumpuhkan Sektor Pariwisata Regional Asia Tenggara
- Kemenperin Targetkan Elektrifikasi Kendaraan pada Ojol dan Armada Komersial
Atas dasar temuan tersebut, Geopix menyampaikan sejumlah tuntutan mendesak kepada RSPO, mulai dari pembukaan transparansi rantai pasok perusahaan terlibat karhutla, penyelidikan independen atas bukti kebakaran di habitat satwa, pencabutan sertifikasi RSPO dan pengenaan sanksi hukum, pemulihan ekosistem gambut dan hutan, hingga penguatan kolaborasi lintas negara.
Geopix turut menyoroti kelemahan sistem pemantauan titik panas milik RSPO. Sebagai contoh, di area konsesi PT GAP—anggota RSPO yang telah ditetapkan sebagai tersangka kasus karhutla oleh Kementerian Kehutanan—sistem pemantauan RSPO justru tidak merekam keberadaan titik panas sama sekali.
Berbasis janggalnya pemantauan tersebut, Geopix mengkritik keras keseriusan RSPO dalam mengawal sertifikasi minyak sawit berkelanjutan.
“RSPO menggunakan sertifikasi untuk penjualan lebih mahal, bukan untuk sustainability-nya,” ujar Annisa.
Geopix mendesak agar masalah rekam jejak karhutla di area konsesi anggota serta kelemahan data pemantauan ini dibahas secara mendalam dalam forum tahunan Roundtable Conference RSPO tahun ini.
