Terhalang El Nino Kuat dan Kepekatan Asap, BMKG Prediksi Awal Musim Hujan Mundur
Jakarta, sustainlifetoday.com – Awal musim hujan di Indonesia diproyeksikan bergeser mundur dari rata-rata klimatologisnya akibat gabungan dampak kemarau panjang dan fenomena El Niño kategori kuat. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengarahkan fokus intervensi pada penanganan kepekatan asap karhutla yang berisiko memperlambat pembentukan awan hujan.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa dinamika atmosfer ini menyebabkan sebagian besar wilayah Indonesia baru akan memasuki musim hujan secara bertahap pada November hingga Desember 2026. Kalimantan Tengah menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian intensif BMKG lantaran proses kondensasi awan hujan terhalang oleh pekatnya polusi asap.
“Kemarin misalnya di Kalimantan Tengah yang sekarang menjadi perhatian utama kita, ada yang masuknya nanti di pertengahan November, dan ada yang masuknya di akhir November,” ungkap Faisal di Istana Negara, Jakarta, Rabu (21/10/2026).
Faisal menggarisbawahi bahwa tingginya konsentrasi partikel asap menciptakan lapisan inversi yang mengunci kelembapan udara. Guna mengurai hambatan tersebut, BMKG mengoptimalkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dan melakukan uji coba kerja sama dengan pihak Thailand untuk memecah lapisan inversi atmosfer.
“Kalau kepekatan asap tidak bisa kita kurangi, kita khawatir musim hujan ini masuknya bisa lebih mundur lagi. Sehingga kepekatan itu dibongkar dengan, melakukan OMC. Kerja sama juga sudah diuji coba oleh BMKG dengan Thailand untuk membongkar lapisan tersebut dan mengangkat asapnya,” tambahnya.
BACA JUGA
- Patra Logistik Fasilitasi Senam dan Skrining Kesehatan Gratis Bagi Lansia
- Sanksi Karhutla Meluas, Kemenhut Bekukan Izin 6 Perusahaan di Kalteng dan Ancam Sanksi Pidana
- Terindikasi Pemicu Kabut Asap, SEC Batasi Sertifikasi Ramah Lingkungan Pulp and Paper (APP)
Meski total akumulasi curah hujan diperkirakan masih berada pada kategori normal berdasarkan acuan data klimatologis 30 tahun terakhir, BMKG mengingatkan bahwa durasi periode musim hujan tahun ini cenderung lebih pendek. Pemampatan durasi ini berpotensi memicu lonjakan frekuensi hujan lebat hingga ekstrem pada fase akhir tahun hingga awal tahun depan.
“Sifat hujannya normal, artinya curah hujan yangakan jatuh sama dengan rata-rata klimatologis 30 tahun terakhir, tapi periodenya lebih pendek. Sehingga nanti akan terjadi hujan lebat, sangat lebat hingga hujan ekstrem lebih sering di akhir tahun hingga awal tahun depan,” ujar Faisal.
Menghadapi proyeksi puncak musim hujan yang diperkirakan berlangsung sepanjang Desember, Januari, hingga Februari, BMKG mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi basah seperti banjir dan tanah longsor.
“Bencana meteorologi basah, yaitu banjir, longsor, itu juga perlu kita antisipasi dari mulai sekarang,” tutup Faisal.
BACA JUGA
