Pakar KRIC Dorong Integrasi Proyek Karbon Indonesia ke Sistem ETS dan Ekonomi Sirkular
Jakarta, sustainlifetoday.com – Indonesia dinilai memiliki posisi strategis untuk mengakselerasi mekanisme pasar karbon sebagai instrumen kunci dalam menurunkan emisi gas rumah kaca. Potensi ini mencakup berbagai sektor utama, mulai dari energi terbarukan, efisiensi energi rumah tangga, pengelolaan limbah, pertanian berkelanjutan, kehutanan, hingga teknologi Carbon Capture and Storage/Carbon Capture, Utilization and Storage (CCS/CCUS).
Senior Researcher Korea Research Institute on Climate Change (KRIC), Bonn Choi, menegaskan bahwa potensi tersebut perlu diimbangi dengan kejelasan kerangka regulasi dan integrasi ke dalam Emissions Trading System (ETS).
“Karena itu, akselerasi pasar karbon perlu didukung identifikasi sektor prioritas, penguatan regulasi, dan integrasi berbagai sumber pengurangan emisi ke dalam Emissions Trading System (ETS),” katanya dalam siaran pers yang diterima pada forum Environmental and Social Innovation Awards (ENSIA) 2026, dikutip Senin (21/9/2026).
Bonn menambahkan, penetapan sektor prioritas akan membantu mengarahkan aliran investasi karbon pada proyek-proyek inovatif dan fasilitas rendah emisi yang terukur serta memberikan dampak lingkungan dan ekonomi yang nyata.
Selain dinamika pasar karbon, forum ENSIA 2026 yang digelar oleh PT Sucofindo (Persero) turut menyoroti penguatan rantai pasok pangan nasional di tengah ancaman krisis iklim, ketidakpastian ekonomi global, dan penyusutan lahan produktif.
BACA JUGA
- Pertamina NRE Inisiasi Proyek Decentralized Waste Management di Kota Bandung
- Dukung Dekarbonisasi Pariwisata, Paiton Energy Hibahkan Angling Listrik ke TMII
- Sempat Dirawat Intensif, Gajah Sumatera ‘Diego’ Tutup Usia di PLG Minas Riau
Asisten Deputi Logistik Pangan Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Ridky Irfan Wirautama, menekankan pentingnya pendekatan inovasi berbasis ekonomi sirkular untuk menjawab tantangan multidimensi tersebut.
“Di tengah berbagai tantangan tersebut, inovasi menjadi salah satu solusi kunci. Transformasi pengelolaan sampah, termasuk pengolahan sampah menjadi energi listrik, menunjukkan bagaimana persoalan lingkungan dapat dialihfungsikan menjadi sumber nilai ekonomi sekaligus bagian dari solusi energi,” kata Ridky.
Di sektor logistik maritim dan kelautan, pemerintah mendorong penerapan green and smart port serta pengembangan ekonomi biru (blue economy) untuk memperkuat pasokan pangan berprotein dan pertumbuhan ekonomi pesisir.
“Pada 2026, Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) dicanangkan sebagai salah satu pusat pertumbuhan ekonomi baru di pesisir yang mengintegrasikan rantai nilai dari hulu ke hilir, mulai dari produksi penangkapan, pengolahan, fasilitas pendingin dan penyimpanan, hingga jaringan distribusi pasar,” kata Ridky.
