Pertamina NRE Inisiasi Proyek Decentralized Waste Management di Kota Bandung
JAKARTA, SustainLifeToday.com — Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE) menginisiasi konsep pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular yang mengonversi limbah perkotaan menjadi sumber energi alternatif bernilai ekonomi. Langkah strategis ini ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) pengembangan proyek percontohan Decentralized Waste Management (DWM) Kota Bandung di Kantor Danantara, Jakarta, pada Senin, 14 September 2026.
Proyek DWM ini dirancang untuk mengolah sekitar 300 ton municipal solid waste (MSW) atau sampah perkotaan setiap harinya. Melalui serangkaian proses pemilahan mekanis, sampah akan dipisahkan menjadi material bernilai daur ulang tinggi, fraksi organik, serta material yang mudah terbakar (combustible).
Direktur Proyek dan Operasi Pertamina NRE, Norman Ginting, memaparkan bahwa proyek ini mengusung pendekatan waste-to-value untuk mengubah paradigma pengelolaan limbah di Indonesia.
“Sampah tidak seharusnya hanya dipandang sebagai sesuatu yang harus dibuang, tetapi sebagai sumber daya yang masih memiliki nilai. Melalui proyek ini, kita ingin mendorong transformasi dari waste menjadi resource, dan selanjutnya dari waste menjadi value,” ujar Norman dikutip Rabu (16/9/2026).
Dalam skema operasional DWM, proses pengolahan mengandalkan teknologi pemilahan mekanis dan pemulihan material (mechanical sorting and material recovery), seperti bag opening, screening, magnetic separation, ballistic separation, hingga eddy current separation.
BACA JUGA
- Pertamina NRE Resmikan Bioethanol Development Center Lampung untuk Kejar Target 1 Juta KL
- Penjualan Mobil Listrik Melonjak 24,6 Persen Per Agustus 2026, BYD Masih Dominasi Pasar
- Dampak Karhutla Kalsel, 12 Bekantan dan Satwa Liar Ditemukan Tewas Terjebak Api
Material terpilih yang bernilai daur ulang akan langsung dipulihkan, sementara fraksi combustible akan melewati proses pencacahan, pengeringan, pencampuran, serta pengendalian kualitas guna menghasilkan Solid Recovered Fuel (SRF). Bahan bakar alternatif ramah lingkungan ini diproyeksikan dapat men substitusi penggunaan bahan bakar fosil pada sektor industri maupun pembangkit listrik.
Pada tahap kajian awal, fraksi combustible tersebut juga dapat dikombinasikan dengan limbah sekam padi untuk menghasilkan blended SRF. Produk ini nantinya akan diverifikasi ketat berdasarkan karakteristik bahan baku, mutu, keberlanjutan rantai pasok, dan kebutuhan calon offtaker.
“Yang lebih penting adalah bagaimana kita membangun sistem yang mampu mengubah sampah yang sangat heterogen menjadi material dan bahan bakar yang lebih konsisten, terukur, dan memiliki nilai ekonomi,” kata Norman.
Norman menekankan bahwa ekosistem DWM memerlukan jaminan teknis dan komersial yang solid, mulai dari kepastian volume pasokan sampah, kesiapan lahan, hingga kepastian pembeli (offtaker). Dalam skema ini, Pertamina NRE bertindak sebagai pengembang sekaligus operator dengan dukungan penuh dari pemda, mitra Engineering, Procurement, and Construction (EPC), serta penyedia teknologi.
Pascapenandatanganan MoU, para pihak akan segera merampungkan feasibility study untuk memetakan aspek utilitas, analisis rantai pasok, hingga perizinan. Pertamina NRE menargetkan fasilitas di Bandung ini dapat menjadi percontohan (role model) yang siap direplikasi di berbagai wilayah Indonesia.
“Ambisi kita tidak berhenti pada pembangunan satu fasilitas. Yang ingin kita bangun adalah sebuah model,” pungkas Norman.
