Risiko Kesehatan Mental Anak dan Pemuda Melonjak Akibat Kenaikan Suhu Ekstrem
Jakarta, sustainlifetoday.com – Kenaikan suhu global, gelombang panas, dan memburuknya kondisi kesehatan mental anak-anak serta kaum muda ditemukan memiliki keterkaitan erat secara signifikan. Temuan komprehensif tersebut terungkap dalam sebuah tinjauan ilmiah terbaru yang dipimpin oleh peneliti Australia, dilansir dari Xinhua, Jumat (7/8).
Studi yang dipublikasikan secara resmi dalam International Journal of Epidemiology tersebut menunjukkan adanya peningkatan dampak buruk terhadap kesehatan mental. Peningkatan tersebut mencatatkan angka pertumbuhan hampir 1 persen setiap kali suhu harian melonjak sebesar 1 derajat Celsius.
Dalam riset tersebut, para peneliti menganalisis data gabungan dari 23 studi global yang meneliti hubungan antara dinamika suhu, paparan gelombang panas, dan indikator kesehatan mental. Hasil analisis menunjukkan bahwa populasi anak-anak berusia 5 hingga 18 tahun merupakan kelompok yang paling rentan terhadap dampak negatif suhu ekstrem.
Secara spesifik, risiko gangguan kesehatan mental terdeteksi meningkat hingga 25 persen selama periode gelombang panas berlangsung. Risiko tersebut juga terus merangkak naik sekitar 1,5 persen ketika suhu lingkungan berada pada tingkat yang lebih tinggi dari batas normal.
BACA JUGA
- Emisi Transportasi Darat Picu Kematian Tiap 12 Menit, ICCT Desak Transisi Kendaraan Nol Emisi
- Gubernur DKI Jakarta Minta Guru PAUD Kenalkan Budaya Pilah Sampah Sejak Usia Dini
- Atasi Krisis Sampah Perkotaan, Danantara Buka Seleksi Mitra Proyek Energi Bersih PSEL
Ahli epidemiologi Universitas Flinders sekaligus penulis utama studi tersebut, Jacqueline Stephens, menjelaskan bahwa laju perubahan iklim yang terakselerasi menjadi pemicu utama peningkatan suhu tinggi. Kondisi tersebut berimplikasi langsung pada frekuensi dan intensitas gelombang panas yang terjadi semakin sering serta semakin parah di berbagai belahan dunia.
Kondisi tersebut terjadi di Australia maupun berbagai wilayah dunia. Hal ini menimbulkan risiko kesehatan masyarakat yang semakin besar, terutama bagi anak-anak dan kaum muda.
Stephens menjelaskan bahwa kerentanan anak-anak terhadap paparan suhu tinggi disebabkan oleh terganggunya ritme biologis harian, seperti kualitas tidur, efektivitas aktivitas di luar ruangan, proses pendidikan, hingga kegiatan rekreasi. Selain dampak langsung, stres akibat panas yang dialami oleh orang tua dan lingkungan keluarga turut berdampak secara tidak langsung terhadap kesejahteraan psikologis anak.
Pemodelan dalam penelitian ini juga membuktikan bahwa paparan suhu tinggi dan gelombang panas berkaitan langsung dengan peningkatan angka kunjungan ke layanan gawat darurat. Kondisi ekstrem tersebut dikaitkan secara erat dengan meningkatnya gejala kecemasan, tingkat depresi, hingga kasus percobaan bunuh diri di kalangan generasi muda.
Temuan ilmiah ini menegaskan krusialnya mengintegrasikan pilar kesehatan mental ke dalam kerangka kerja dan kebijakan adaptasi terhadap perubahan iklim secara global. Para peneliti menyerukan perumusan intervensi khusus berbasis sains untuk melindungi populasi anak-anak dan kaum muda dari eskalasi dampak suhu ekstrem.
Beberapa solusi praktis di tingkat tapak dinilai dapat segera diterapkan guna meredam dampak pemanasan global terhadap anak-anak. Langkah-langkah tersebut mencakup penyediaan ruang kelas yang lebih sejuk, peningkatan kualitas sistem ventilasi udara, hingga perluasan ketersediaan ruang luar yang rimbun dan teduh.
