Emisi Transportasi Darat Picu Kematian Tiap 12 Menit, ICCT Desak Transisi Kendaraan Nol Emisi
Jakarta, sustainlifetoday.com – Emisi transportasi darat di Indonesia tercatat menyebabkan satu kematian dini setiap 12 menit dan memicu satu kasus asma baru pada anak setiap 26 menit. Fakta memprihatinkan ini merujuk pada hasil riset terbaru The International Council on Clean Transportation (ICCT) bertajuk ‘Health benefits of zero-emission transport through 2050’. Riset tersebut menunjukkan bahwa total kematian dini akibat polusi sektor transportasi darat di Indonesia mencapai 44.700 orang sepanjang tahun 2024. Sementara itu, krisis kualitas udara yang sama juga menyumbang 19.800 kasus asma baru pada anak-anak.
“Pertumbuhan populasi, populasi yang menua, dan armada kendaraan yang terus bertambah memberikan tekanan meningkat terhadap kesehatan akibat transportasi darat,” kata Josh Miller, Direktur Senior ICCT sekaligus penulis studi, dikutip Rabu (5/8).
Dampak kesehatan ini dipicu secara langsung oleh paparan partikel udara berskala sangat kecil (PM2,5), ozon (O3), dan nitrogen dioksida (NOx). Berdasarkan riset ICCT, transportasi darat secara global telah menyumbang 2,4µg/m³ paparan PM2,5. Angka tersebut menyentuh hampir setengah dari ambang batas aman paparan PM2,5 yang ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yakni sebesar 5µg/m³. Apabila ketiga polutan mematikan tersebut terhirup dan masuk ke dalam tubuh manusia, risiko munculnya penyakit mematikan dan gangguan pernapasan akut menjadi sangat tinggi.
Penelitian ini juga menyoroti temuan krusial bahwa kendaraan berat menjadi sumber penyumbang emisi paling dominan. Meskipun populasinya hanya berkisar 2% dari total keseluruhan armada transportasi darat di Indonesia, kendaraan berat secara mengejutkan menyumbang lebih dari setengah total emisi NOx dan PM2,5.
BACA JUGA
- Hadapi Rekor Tertinggi El Nino, Sekjen PBB Paksa Dunia Lakukan Empat Mitigasi Darurat
- Antisipasi Dampak Kekeringan El Nino, BMKG Masifkan Operasi Modifikasi Cuaca
- Realisasi JETP Lambat, Pemerintah Perkuat Pembiayaan Domestik untuk Proyek Transisi Energi
Di sisi lain, jenis kendaraan ringan lebih mendominasi produksi emisi karbon monoksida (CO) dan senyawa organik yang mudah menguap (VOC). Menyikapi kondisi tersebut, Peneliti ICCT sekaligus penulis studi, Lingzhi Jin, menekankan perlunya kebijakan yang tepat guna mendorong adopsi kendaraan nol emisi di kedua kategori kendaraan.
“Dengan elektrifikasi kendaraan yang ambisius, pada 2050, kasus asma pada anak dapat dikurangi sebanyak 150 ribu dan kematian dini dapat dikurangi sebanyak 800 ribu di Indonesia. Serta lebih dari 8 juta secara global,” ucap dia.
Adapun skenario elektrifikasi ambisius yang dimaksud adalah terwujudnya dominasi kendaraan nol emisi yang mencakup 100% dari total penjualan kendaraan pada tahun 2045 mendatang. Pendekatan radikal ini dinilai sebagai langkah paling efektif untuk membuat negara di semua tingkat pendapatan mengalami penurunan signifikan atas beban kesehatan hingga tahun 2050. Sebaliknya, jika dunia hanya bergantung pada arah kebijakan saat ini, negara berpenghasilan menengah ke atas justru berisiko mengalami peningkatan kematian dini lebih dari 50%, sementara negara berpenghasilan rendah dan menengah ke bawah berpotensi menghadapi lonjakan kematian hingga lebih dari 200%.
Menanggapi besarnya ancaman tersebut, Akademisi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Budi Haryanto, menegaskan bahwa polusi udara masih menjadi faktor risiko terpenting yang meningkatkan beban penyakit, terutama bagi kelompok paling sensitif seperti anak-anak. Oleh sebab itu, ia mendorong terwujudnya kolaborasi lintas sektor yang kuat demi menciptakan kualitas udara yang lebih layak dan memadai bagi masyarakat luas.
“Pengendalian emisi perlu dilakukan secara terpadu melalui kebijakan transportasi, energi, dan pemantauan kualitas udara,” ujar dia.
