Indonesia Berpotensi Alami Gelombang Panas, Pakar: Berbeda dari yang Terjadi di Eropa
Jakarta, sustainlifetoday.com – Gelombang panas ekstrem yang melanda sejumlah negara di Eropa hingga Amerika Serikat memicu pertanyaan mengenai potensi fenomena serupa terjadi di Indonesia. Meski memiliki risiko peningkatan suhu ekstrem, karakteristik cuaca panas di Indonesia dinilai berbeda dengan yang terjadi di kawasan subtropis.
Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi FMIPA IPB University, Sonni Setiawan, menjelaskan Indonesia berpotensi mengalami peningkatan kejadian suhu panas pada masa mendatang. Namun, pemicunya lebih banyak berasal dari perubahan penggunaan lahan dan fenomena urban heat island atau pulau panas perkotaan.
“Indonesia berpeluang mengalami peningkatan suhu ekstrem, tetapi tidak seperti di Eropa. Faktor yang lebih besar dominan adalah perubahan fungsi lahan sehingga wilayah-wilayah yang paling rentan adalah kota-kota besar,” ujar Sonni, melansir laman resmi IPB pada Selasa (7/7).
Menurutnya, kawasan perkotaan dengan ruang terbuka hijau yang semakin berkurang akan lebih rentan mengalami peningkatan suhu permukaan. Kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan adaptasi perubahan iklim yang perlu diantisipasi melalui perencanaan tata ruang yang lebih berkelanjutan.
Sebagai langkah adaptasi, Sonni mendorong pemerintah dan masyarakat memperkuat penghijauan melalui reboisasi, penanaman pohon, serta pengendalian alih fungsi lahan. Upaya tersebut dinilai penting untuk menekan kenaikan suhu permukaan sekaligus meningkatkan ketahanan lingkungan terhadap dampak perubahan iklim.
BACA JUGA
- Toyota dan Rekosistem Bangun Waste Station untuk Perkuat Pengelolaan Sampah Jakarta
- Suhu Permukaan Laut Global Pecahkan Rekor, Ilmuwan Waspadai Lonjakan Gelombang Panas
- Studi UGM Ungkap Parasit pada Komodo, Soroti Pentingnya Sistem Deteksi Dini Kesehatan Satwa
“Walaupun Indonesia tidak mengalami gelombang panas seperti di Eropa, adaptasi tetap perlu dilakukan melalui reboisasi, penanaman pohon, dan pengaturan alih fugnsi lahan agar dampak peningkatan suhu dapat diminimalkan,” tuturnya.
Sonni menjelaskan gelombang panas di Eropa terjadi akibat kombinasi sejumlah faktor atmosfer. Salah satunya adalah pemanasan daratan secara luas saat musim panas yang diperkuat oleh perambatan Gelombang Rossby, yakni gangguan atmosfer berskala besar yang memengaruhi pola tekanan udara, angin, dan suhu di wilayah lintang menengah.
Gelombang tersebut memiliki panjang sekitar 4.000 hingga 6.000 kilometer dan terbentuk ketika angin baratan melintasi pegunungan besar, seperti Pegunungan Rocky di Amerika Utara dan Pegunungan Andes di Amerika Selatan.
“Saat musim panas di belahan Bumi utara, posisi Matahari menyebabkan daratan mengalami pemanasan maksimum. Karena daratan memiliki kapasitas menyimpan panas yang lebih rendah dibandingkan lautan, suhu udara di atasnya meningkat lebih cepat,” jelas dia.
“Pemanasan berskala benua tersebut kemudian memperkuat gangguan suhu yang dibawa gelombang Rossby hingga memicu terjadinya gelombang panas,” lanjut Sonni.
Ia menambahkan, kondisi tersebut semakin diperparah oleh melemahnya aktivitas Gelombang Rossby pada musim panas. Pergerakan gelombang yang melambat membuat massa udara panas bertahan lebih lama di suatu wilayah.
Fenomena tersebut juga diperkuat oleh Omega Block, yaitu pola tekanan tinggi yang menjebak udara panas sehingga suhu ekstrem dapat berlangsung selama beberapa hari bahkan lebih lama.
