KKP dan Konservasi Indonesia Perkuat Pendanaan untuk Ekonomi Biru
Jakarta, sustainlifetoday.com – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bersama Konservasi Indonesia (KI) memperkuat kolaborasi untuk memperluas kawasan konservasi laut sekaligus mengembangkan berbagai skema pendanaan inovatif guna mendukung perlindungan ekosistem pesisir dan laut Indonesia.
Langkah tersebut dinilai penting mengingat luasnya wilayah laut Indonesia yang menghadapi berbagai tantangan, mulai dari dampak perubahan iklim hingga meningkatnya tekanan terhadap sumber daya kelautan dan perikanan.
“Karena luasnya wilayah laut Indonesia dan berbagai tantangan yang dihadapi, mulai dari perubahan iklim hingga tekanan terhadap sumber daya kelautan, diperlukan dukungan multipihak yang berbasis sains dan inovasi,” kata Direktur Jenderal Pengelolaan Kelautan KKP Koswara dalam keterangan resmi, dikutip Senin (8/6).
Kerja sama tersebut ditandai dengan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) pada peringatan Hari Laut Sedunia 2026 di Bali. Melalui kemitraan ini, kedua pihak akan memperkuat upaya perlindungan ekosistem laut, pesisir, dan pulau-pulau kecil, sekaligus mendorong pengelolaan kawasan konservasi yang lebih efektif.
BACA JUGA
- KEK Batang Integrasikan Pengembangan Industri dengan Restorasi Ekosistem Pesisir
- Piala Dunia 2026 Terancam Jadi Turnamen Paling Mencemari Lingkungan dalam Sejarah
- Satwa Liar Kembali Muncul di IKN, Jadi Indikator Pemulihan Ekosistem Smart-Forest City
Salah satu fokus utama kolaborasi adalah perluasan kawasan konservasi laut dan kawasan konservasi berbasis pengelolaan efektif atau Other Effective Area-based Conservation Measures (OECM) di sejumlah wilayah prioritas. Lokasi yang menjadi target antara lain Nias, Bintan, Wetar, Morotai, Belu, Sumba, Teluk Saleh, Raja Ampat, Fakfak, Kaimana, hingga Biak-Supiori.
Upaya tersebut menjadi bagian dari komitmen Indonesia dalam menjaga keanekaragaman hayati laut sekaligus memperkuat ketahanan ekosistem pesisir yang rentan terhadap dampak perubahan iklim.
Hingga akhir 2025, KKP mencatat luas kawasan konservasi laut nasional telah mencapai 30,99 juta hektare.
Selain perluasan kawasan konservasi, kerja sama ini juga diarahkan untuk memperkuat pembiayaan berkelanjutan bagi perlindungan ekosistem laut. Salah satu instrumen yang dikembangkan adalah penyempurnaan program Tropical Forest and Coral Reefs Conservation Act (TFCCA) serta pengelolaan Blue Abadi Fund (BAF).
TFCCA merupakan skema pengalihan utang menjadi pendanaan konservasi (debt-for-nature swap) antara Pemerintah Indonesia dan Amerika Serikat. Program tersebut memiliki nilai kesepakatan sebesar US$35 juta atau sekitar Rp635 miliar, ditambah kontribusi US$3 juta dari Konservasi Indonesia/Conservation International dan US$1,5 juta dari The Nature Conservancy/Yayasan Konservasi Alam Nusantara.
Pendanaan TFCCA difokuskan untuk mendukung pengelolaan dan restorasi terumbu karang, penguatan kawasan konservasi, penerapan pengelolaan berbasis sains dan kearifan lokal, serta pengembangan mata pencaharian berkelanjutan di bentang laut Kepala Burung, Sunda Kecil, dan Banda.
Sementara itu, Blue Abadi Fund dikembangkan sebagai dana abadi yang mendukung pengelolaan jangka panjang bentang laut Kepala Burung di Papua melalui pembiayaan berkelanjutan bagi pemerintah daerah dan masyarakat lokal yang terlibat dalam kegiatan konservasi.
Koswara juga menyoroti pengembangan instrumen pembiayaan inovatif lainnya, seperti Blue Halo S dan Manta Impact Bond, yang diharapkan dapat memperkuat pengelolaan kawasan konservasi laut sekaligus mendorong implementasi ekonomi biru di Indonesia.
Blue Halo S merupakan skema pembiayaan campuran (blended finance) yang dirancang untuk mendukung pertumbuhan ekonomi masyarakat pesisir sembari menjaga kesehatan ekosistem laut di Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) 572 yang mencakup Samudra Hindia bagian barat Sumatra dan Selat Sunda.
Sementara itu, Manta Impact Bond merupakan model investasi berbasis hasil yang dikembangkan untuk mendukung perlindungan populasi pari manta beserta habitatnya.
Melalui kolaborasi ini, KKP dan Konservasi Indonesia berharap upaya konservasi laut tidak hanya berkontribusi terhadap perlindungan keanekaragaman hayati, tetapi juga menciptakan manfaat ekonomi berkelanjutan bagi masyarakat pesisir melalui pendekatan ekonomi biru yang lebih inklusif dan berbasis ekosistem.
