Indonesia Punya Potensi Besar di Era AI, Tapi Akses Pendidikan Masih Terbatas
Jakarta, sustainlifetoday.com – Indonesia dinilai memiliki potensi besar dalam pengembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) karena didukung jumlah angkatan kerja yang besar dan relatif muda. Namun, akses terhadap pendidikan AI yang praktis dan relevan secara lokal disebut masih terbatas.
Hal tersebut disampaikan pendiri Nusantara AI Institute, Oliver Tedja, dalam dialog perdana yang digelar di Konsulat Jenderal Republik Indonesia di New York sebagai bagian dari peluncuran inisiatif nirlaba di bidang teknologi pendidikan.
Forum tersebut menghadirkan sejumlah tokoh, termasuk Sandiaga Uno, mantan Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia Robert O. Blake Jr., serta David N. Merrill.
Diskusi tersebut mempertemukan pemimpin Indonesia, pakar global, dan komunitas diaspora untuk membahas peran AI dalam mendukung pembangunan nasional dan daya saing global.
Oliver Tedja menilai AI kini menjadi faktor penting dalam menentukan kekuatan ekonomi, daya saing, hingga pengaruh geopolitik suatu negara.
“Negara yang memimpin di bidang ini akan membentuk masa depan, sementara yang tertinggal berisiko menjadi bergantung,” ujar Oliver dikutip dalam keterangan resmi, Senin (4/5).
Ia menambahkan, inisiatif tersebut bertujuan memastikan Indonesia tidak tertinggal dalam perkembangan teknologi AI yang berlangsung sangat cepat.
BACA JUGA
- Studi ITB Ungkap Campuran BBM Bisa Tekan Emisi Kendaraan Bermotor
- Media Asing Soroti Krisis Sampah Bali usai Penutupan TPA Open Dumping
- Pemprov Sumut Bebaskan Pajak Kendaraan Listrik untuk Dorong Transisi Transportasi Hijau
Menurut Oliver, Indonesia memiliki peluang besar karena didukung populasi usia produktif yang besar. Namun, pendidikan AI yang praktis dan relevan dengan kebutuhan lokal dinilai masih perlu diperluas.
Dalam forum yang sama, Sandiaga Uno menilai literasi AI akan menjadi keterampilan dasar yang penting di masa depan.
“Ini bukan lagi sekadar keterampilan tambahan. Literasi AI akan membuka peluang karier baru di berbagai sektor,” ujar Sandiaga.
Nusantara AI Institute sendiri berfokus pada pengembangan literasi AI melalui berbagai program pendidikan. Hingga kini, lembaga tersebut telah menyediakan lebih dari 20 kursus gratis yang membahas literasi AI, penerapan AI untuk bisnis, hingga aspek teknis AI.
Sementara itu, Robert O. Blake Jr. menilai keterampilan AI akan semakin dibutuhkan, baik dalam pekerjaan konvensional maupun sektor baru yang berkembang.
Menurutnya, pemanfaatan AI dapat membantu otomatisasi pekerjaan rutin sekaligus meningkatkan produktivitas.
Ia juga menyoroti pertumbuhan ekonomi Indonesia yang selama ini masih banyak ditopang oleh jumlah populasi, sehingga peningkatan keterampilan teknis, termasuk AI, menjadi kebutuhan penting ke depan.
