PIS dan PGN Jalin Kerja Sama Infrastruktur Energi Rendah Karbon
Jakarta, sustainlifetoday.com – PT Pertamina International Shipping (PIS) dan PT Perusahaan Gas Negara (PGN) menjalin kerja sama strategis untuk pengembangan infrastruktur dan moda transportasi maritim bagi energi rendah karbon.
Kolaborasi kedua subholding Pertamina tersebut dituangkan dalam nota kesepahaman (MoU) yang mencakup pembangunan dan pemanfaatan infrastruktur, serta pengangkutan maritim untuk produk energi seperti LNG, amonia, hidrogen, dan komoditas rendah karbon lainnya.
Penandatanganan MoU dilakukan oleh Direktur Utama PIS, Surya Tri Harto, dan Direktur Utama PGN, Arief Kurnia Risdianto pada Jumat pekan lalu.
“Pada kerjasama ini kita bicara tentang optimal value untuk Pertamina Group, bukan hanya untuk PIS atau PGN. Dengan rencana memiliki infrastruktur transportasi gas, termasuk untuk floating (terapung). Kita coba kaji opsi investasi, supaya dalam jangka panjang tidak terlalu terekspos risiko fluktuasi harga pasar. Sekali lagi untuk sama-sama ciptakan value yang optimal bagi Pertamina,” ujar Surya Tri Harto.
Kerja sama ini disebut menjadi langkah strategis dalam memperkuat sinergi antar subholding Pertamina sekaligus mendukung penguatan armada dan diversifikasi kargo untuk menopang ketahanan energi nasional.
BACA JUGA
- Jelang May Day 2026, Isu K3 Dinilai Belum Jadi Prioritas Nasional
- 356 Izin Tambang Diduga Abaikan Kewajiban Pemulihan Lingkungan
- BRIN Kenalkan Petasol, BBM dari Limbah Plastik untuk Energi dan Lingkungan
Arief Kurnia Risdianto menjelaskan kolaborasi tersebut merupakan pengembangan dari kerja sama yang telah berjalan sebelumnya antara PIS dan PGN.
Sejak 2024, PIS tercatat telah melakukan 17 pengangkutan LNG untuk PGN menuju FSRU Lampung, Jawa Barat, dan Terminal Arun melalui skema spot charter.
“Kerjasama yang terjalin kita eskalasi, kembangkan yang pada prinsipnya mencakup pengembangan kepemilikan, pembangunan, pengelolaan sektor midstream hingga downstream gas. Sehingga Pertamina Group memiliki infrastuktur yang matang dan menyiapkan Indonesia di era LNG. Di mana semakin ke depan, porsi LNG akan semakin besar, sehingga perlu infrastruktur tambahan. Kita coba kembangkan, sehingga nanti kita tidak hanya jadi penonton, tapi juga ada kepemilikan di infrastruktur ini,” ujarnya.
Ke depan, kerja sama akan mencakup pengembangan pengangkutan, penguatan armada, hingga peluang bisnis pada komoditas energi rendah karbon seperti LNG, amonia, dan hidrogen beserta infrastruktur pendukungnya.
Kedua perusahaan juga akan membentuk tim kerja untuk menjajaki proyek konkret dan skema kerja sama jangka panjang.
Sinergi ini diharapkan dapat memperkuat peran Pertamina Group sebagai penyedia solusi energi yang lebih efisien, terintegrasi, dan berkelanjutan dalam mendukung transisi energi nasional.
