AESI Sebut Target PLTS 100 GW dalam Tiga Tahun Belum Realistis
Jakarta, sustainlifetoday.com – Target pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt (GW) dalam kurun waktu tiga tahun dinilai belum realistis untuk direalisasikan secara nasional. Keterbatasan kapasitas industri domestik, keterancaman rantai pasok, hingga kesiapan sumber daya manusia di dalam negeri menjadi tantangan utama yang dihadapi.
Berkaca pada kondisi riil saat ini, Ketua Dewan Pakar Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI), Herman Darnel, menyampaikan bahwa ekspansi PLTS skala besar dalam durasi sesingkat itu sangat sulit diwujudkan meskipun pemerintah telah menetapkannya sebagai agenda strategis.
“Kalau saya menangkapnya, tidak bisa tiga tahun. Sudah jelas tidak bisa,” ujar Herman.
Herman memperingatkan bahwa pemaksaan target tanpa kesiapan ekosistem lokal berpotensi memicu ketergantungan ekstrem pada impor komponen PLTS. Kondisi tersebut berisiko mengalirkan sebagian besar manfaat ekonomi serta pendanaan proyek ke luar negeri, ketimbang memperkuat basis manufaktur dan industri dalam negeri.
Tantangan utama transisi energi surya tidak berhenti pada penyediaan panel surya semata, melainkan mencakup ekosistem pelaksana di lapangan.
Herman menilai kemampuan perusahaan engineering, procurement, and construction (EPC) nasional saat ini bahkan belum teruji untuk menangani pembangunan PLTS sebesar 5 GW per tahun secara konsisten. Di samping itu, integrasi daya skala besar mensyaratkan kesiapan infrastruktur penunjang, seperti jaringan transmisi listrik dan tenaga ahli operasional.
BACA JUGA
- Emisi Transportasi Darat Picu Kematian Tiap 12 Menit, ICCT Desak Transisi Kendaraan Nol Emisi
- Gubernur DKI Jakarta Minta Guru PAUD Kenalkan Budaya Pilah Sampah Sejak Usia Dini
- TNGGP Tutup Jalur Pendakian Gunung Gede Pasca-Kebakaran di Alun-Alun Suryakencana
Guna mencegah terjadinya kendala teknis, Herman mendorong pemerintah untuk memetakan kebutuhan lapangan secara terperinci, mulai dari jangkauan jaringan transmisi, alat berat konstruksi, hingga ketersediaan tenaga kerja tersertifikasi.
“Kita harus exercise dulu. Bangun transmisi sekian kilometer, alat stringing ada berapa, petugasnya ada berapa. Jangan sampai ada bottleneck di situ,” katanya.
Kendati mendesak adanya penyesuaian garis waktu, Herman menegaskan bahwa visi PLTS 100 GW tetap bernilai strategis sebagai komitmen jangka panjang transisi energi nasional.
Rencana besar ini dinilai dapat memberikan kepastian pasar serta sinyal positif bagi investor untuk membangun fasilitas manufaktur panel surya di Indonesia, ketimbang dipandang sebagai target kaku yang harus rampung dalam tiga tahun.
