Road to Teal Forum 2026 Soroti Transformasi Ekonomi dan Transisi Berkelanjutan di Indonesia
Jakarta, sustainlifetoday.com — Transformasi ekonomi Indonesia menuju masa depan yang berkelanjutan membutuhkan kolaborasi lintas sektor, integrasi data, serta dukungan pembiayaan yang inklusif. Hal tersebut menjadi sorotan utama dalam kegiatan Road to Teal Forum 2026: Aligning Sectors Towards a Transformative Future-Ready Economy yang diselenggarakan secara daring oleh Senang Eco pada Kamis (12/2).
Webinar ini menyoroti peran strategis pertanian berkelanjutan, pariwisata, pembiayaan iklim, dan transisi yang adil dalam mendukung transformasi ekonomi jangka panjang Indonesia. Kegiatan tersebut mempertemukan pembuat kebijakan, pelaku sektor swasta, organisasi pembangunan, serta 42 peserta dari berbagai sektor.
Dimoderatori oleh Ira Yulianti Purnomo, Senior Analyst dari Climate Policy Initiative, diskusi membahas pendekatan praktis dalam membangun sistem data keberlanjutan, memperluas akses pembiayaan, meningkatkan keterlacakan rantai pasok, serta mempercepat adopsi teknologi rendah emisi karbon. Diskusi menegaskan bahwa seluruh elemen tersebut harus berjalan terintegrasi agar komitmen keberlanjutan menghasilkan dampak nyata dan inklusif.
Ira menekankan bahwa transformasi ekonomi berkelanjutan membutuhkan sinergi antara kebijakan, teknologi, pembiayaan, dan aksi nyata.
“Dari forum hari ini, kita belajar bahwa keberlanjutan bukan hanya tentang memiliki kebijakan atau teknologi yang tepat. Keberlanjutan adalah tentang menghubungkan data dengan pengambilan keputusan, pendampingan pembiayaan iklim dengan komunitas, serta ambisi dengan aksi nyata. Ketika semua elemen ini bergerak bersama, transformasi menjadi mungkin. Tidak ada sektor yang bisa berjalan sendiri dalam transisi ini. Hanya melalui kolaborasi, kita dapat memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi juga menghadirkan ketahanan dan peluang bagi semua,” ujar Ira.
Fokus pada Pembiayaan, UMKM, dan Ketahanan Petani
Rafi Muhammad, Lead Sustainability Consultant dari Senang Eco, menyoroti pentingnya matriks keberlanjutan dan asesmen double materiality, khususnya bagi UMKM dan pelaku usaha pertanian. Ia menilai akses pembiayaan perlu diiringi dukungan kelembagaan dan teknis.
“Banyak produsen kecil yang mendapatkan pembiayaan, tetapi tidak memiliki akses terhadap kerangka hukum, dukungan institusional, dan pengetahuan teknis. Di sinilah peran ekosistem menjadi sangat penting,” ungkap Rafi.
Dari perspektif sektor pertanian, Samuel Pablo Pareira, Business Engagement and Development Specialist dari WWF Indonesia, menekankan kerentanan struktural petani kecil dalam rantai nilai kopi dan kakao. Menurutnya, ketahanan jangka panjang bergantung pada kepastian hak atas tanah, sertifikasi yang kredibel, serta pendampingan berkelanjutan dari berbagai pihak.
BACA JUGA:
- Polres Tangsel Selidiki Kebakaran Gudang Pestisida yang Cemari Sungai Cisadane
- Mendiktisaintek Dorong Kampus Jadi Model Tata Kelola Berkelanjutan dan Pengelolaan Sampah
- Pemprov DKI Buka Peluang Gunakan Truk Sampah Listrik untuk Tekan Emisi Perkotaan
Sementara itu, Lintang Gustika dari Supernova Ecosystem menyoroti pentingnya inklusi sosial dalam transisi keberlanjutan, terutama melalui pendampingan usaha berbasis komunitas dan masyarakat adat.
“Transisi yang adil harus memastikan bahwa masyarakat lokal tidak hanya dilindungi, tetapi juga diberdayakan untuk tumbuh,” ujarnya.
Transformasi Korporasi Menuju Energi Bersih
Dari sektor korporasi, Karida H. Niode, VP Sustainability TBS Energi Utama Tbk, membagikan pengalaman transformasi perusahaan dari industri beremisi tinggi menuju energi terbarukan, kendaraan listrik, dan pengelolaan limbah.
“Kita harus mulai sebelum merasa benar-benar siap. Belajar sambil berjalan adalah bagian dari perjalanan,” kata Karida.
Diskusi juga menyoroti tantangan implementasi keberlanjutan, mulai dari kompleksitas regulasi, keterbatasan pembiayaan inklusif, hingga kesenjangan kapasitas produsen kecil. Namun, peluang tetap terbuka melalui skema blended finance, kemitraan publik hingga swasta, serta peningkatan ketertelusuran rantai pasok.
Forum ini turut dibuka oleh Andrian Dwi Kurniawan, Founder dan CEO Senang Eco, yang menekankan pentingnya keberlanjutan yang praktis dan aplikatif. Selain itu, paparan Economic Transformation Outlook 2026 oleh Salwa Raihana menyoroti kebutuhan menjembatani ambisi dan implementasi, khususnya di sektor energi terbarukan, pengelolaan limbah, dan pembiayaan iklim.
