BMKG Ungkap Faktor di Balik Hujan Ekstrem di Sejumlah Wilayah Indonesia
Jakarta, sustainlifetoday.com — Peningkatan intensitas hujan yang terjadi di sejumlah wilayah Indonesia dalam beberapa hari terakhir kembali menegaskan kompleksitas dinamika iklim tropis di Tanah Air. Fenomena ini dipengaruhi oleh kombinasi faktor atmosfer, mulai dari skala global hingga regional dan lokal, yang secara bersamaan mendorong pembentukan awan hujan intens.
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat, curah hujan tinggi terjadi terutama di wilayah Jawa Tengah, Banten, Jawa Barat, dan Sumatera Selatan, dengan intensitas mencapai kategori lebat hingga ekstrem.
“Kondisi cuaca di Indonesia dalam beberapa hari terakhir menunjukkan peningkatan intensitas hujan yang signifikan, terutama di wilayah Jawa Tengah, Banten, Jawa Barat, dan Sumatera Selatan, di mana curah hujan tercatat mencapai kategori lebat hingga ekstrem,” kata BMKG dalam Prospek Cuaca Mingguan Periode 16–22 Januari 2026.
BMKG menjelaskan, pada pekan sebelumnya hujan lebat dipicu oleh kombinasi faktor regional, khususnya keberadaan sirkulasi siklonik serta penguatan monsun dingin Asia. Hingga beberapa hari ke depan, sejumlah fenomena atmosfer diperkirakan masih akan berpengaruh signifikan terhadap pola curah hujan di Indonesia.
Baca Juga:
- Studi: Orang Kaya Dunia Sudah Habiskan Jatah Emisi Tahunan di Awal 2026
- Gunung Gede Terapkan Teknologi Gelang RFID untuk Perkuat Keselamatan Kawasan Konservasi
- KPAI: Lebih dari 2.000 Kasus Pelanggaran Hak Anak Terjadi Sepanjang 2025
Pada skala global, fenomena El Niño–Southern Oscillation (ENSO) terpantau menguat pada fase negatif yang mengindikasikan La Niña lemah. Kondisi ini berpotensi meningkatkan pasokan uap air yang mendukung pembentukan awan hujan di sebagian wilayah Indonesia. Faktor tersebut diperkuat oleh suhu muka laut yang relatif hangat di sejumlah perairan Indonesia, sehingga memperkaya suplai uap air ke atmosfer.
Selain itu, aktivitas Madden–Julian Oscillation (MJO) secara spasial diprakirakan aktif melintasi wilayah Laut Maluku, Maluku Utara, Laut Halmahera, perairan utara Maluku Utara–Papua, serta pesisir utara Papua. Aktivitas ini berpotensi meningkatkan pertumbuhan awan hujan di kawasan tersebut.
Gelombang ekuator juga terpantau aktif dan dapat memperkuat proses konvektif di berbagai wilayah. Kombinasi MJO, Gelombang Kelvin, dan Gelombang Rossby Ekuator teramati aktif di Samudra Hindia barat Sumatra, sebagian Sumatra, sebagian Kalimantan, Maluku Utara, serta perairan utara Papua, sehingga berkontribusi pada peningkatan potensi hujan.
BMKG turut memantau keberadaan Siklon Tropis Nokaen di Laut Filipina sebelah utara Maluku Utara yang menguat dengan kecepatan angin maksimum 35 knot dan tekanan udara 1000 hPa, serta bergerak ke arah barat laut. Aktivitas siklon ini diperkirakan memengaruhi pola angin, khususnya di wilayah utara Indonesia bagian timur.
BMKG juga mengidentifikasi potensi peningkatan seruakan dingin (cold surge) dari Benua Asia. Kondisi ini ditandai oleh perbedaan tekanan udara yang tinggi di wilayah Gushi serta peningkatan kecepatan angin di Laut Cina Selatan, yang memperkuat aliran monsun Asia melintasi ekuator melalui Selat Karimata.
“Hal ini memberikan dampak pada peningkatan kejadian cuaca ekstrem di beberapa wilayah di Selatan Indonesia, khususnya Sumatera Bagian Selatan, dan Pulau Jawa,” kata BMKG.
Pada periode 19–22 Januari, cuaca di sebagian besar wilayah Indonesia diprakirakan didominasi hujan ringan hingga lebat. BMKG mengingatkan adanya potensi hujan lebat hingga sangat lebat di beberapa wilayah, yakni Jawa Barat, Jawa Timur, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi Selatan.
