Perluas Langkah Inklusivitas, Mattel Resmi Luncurkan Barbie dengan Autisme
Jakarta, sustainlifetoday.com — Perusahaan mainan Mattel kembali memperluas langkah inklusivitasnya lewat peluncuran boneka baru dalam koleksi Barbie Fashionistas. Belum lama ini, Mattel merilis Barbie dengan down syndrome, kali ini perusahaan mainan asal Amerika Serikat tersebut menghadirkan Barbie dengan kondisi autisme atau Autism Spectrum Disorder (ASD).
Boneka Barbie dengan autisme ini dikembangkan melalui kolaborasi Mattel bersama organisasi nirlaba advokasi hak penyandang autisme, Autistic Self Advocacy Network (ASAN), selama lebih dari 18 bulan. Inisiatif ini menjadi bagian dari komitmen Mattel untuk mendorong inklusivitas dan menghadirkan representasi yang lebih luas bagi anak-anak, khususnya anak perempuan, melalui figur Barbie.
“Boneka ini, didesain dengan arahan dari Autistic Self Advocacy Network, membantu dalam memperluas wujud inklusi dalam rak mainan. Sebab, setiap anak berhak untuk melihat diri mereka sendiri dalam boneka Barbie,” ucap Global Head of Dolls Mattel, Jamie Cygielman, dikutip pada Rabu (14/1).
Boneka ini dirancang dengan sejumlah fitur khusus yang merefleksikan karakteristik yang kerap dimiliki oleh orang dengan autisme. Meski demikian, Mattel menegaskan bahwa autisme merupakan spektrum, sehingga kondisi dan pengalaman tiap individu dapat sangat berbeda.
Berdasarkan keterangan resmi, pilihan desain pada Barbie ini ditentukan bersama ASAN untuk mencerminkan pengalaman hidup yang mungkin familier bagi sebagian individu dengan autisme.
Baca Juga:
- Luhut Geram Dituduh Pemilik Toba Pulp Lestari di Tengah Sorotan Dampak Lingkungan
- Luhut: Saya Pernah Usulkan Tutup Toba Pulp Lestari di Era Gus Dur karena Dampak Lingkungan
- AS Cabut Dukungan, PBB: Perjuangan Iklim Tak Akan Berhenti
“Sebagai bagian dari komunitas autistik, tim ASAN kami sangat senang dapat terlibat dalam pembuatan boneka Barbie pertama dengan kondisi autisme. Sangat penting bagi orang-orang muda dengan autisme untuk melihat representasi diri mereka sendiri yang autentik dan penuh kebahagiaan,” kata Executive Director Autistic Self Advocacy Network, Colin Killick.

Secara fisik, Barbie dengan autisme ini memiliki siku dan pergelangan tangan yang dapat digerakkan. Fitur tersebut memungkinkan boneka melakukan gestur seperti stimming atau melambai-lambaikan tangan, yang umum dilakukan sebagian orang dengan autisme untuk memproses rangsangan sensoris atau mengekspresikan antusiasme.
Pada bagian wajah, boneka ini digambarkan dengan pandangan mata yang sedikit melirik ke samping, merepresentasikan kecenderungan sebagian individu dengan autisme yang menghindari kontak mata langsung.
Barbie ini juga dilengkapi aksesori yang kerap digunakan oleh sebagian orang dengan autisme, seperti fidget spinner berwarna pink untuk membantu fokus dan mengurangi stres, headphone pink untuk meredam kebisingan dan mengatasi kewalahan sensoris, serta tablet pink yang menampilkan aplikasi komunikasi alternatif berbasis simbol atau Augmentative and Alternative Communication Apps (AAC).
Busana yang dikenakan Barbie turut dirancang dengan mempertimbangkan sensitivitas sensoris. Boneka ini mengenakan atasan bersiluet longgar, rok pendek flowy, serta sepatu tanpa hak. Pada sebagian orang dengan autisme, pakaian longgar dapat membantu mengurangi ketidaknyamanan akibat sentuhan kain pada kulit.
Sebelum 2019, Mattel hanya merilis sedikit varian Barbie inklusif. Namun kini, lini Barbie Fashionistas terus berkembang dengan menghadirkan Barbie dengan berbagai kondisi, mulai dari down syndrome, diabetes tipe 1, tunanetra, Tuli, hingga Barbie pengguna kursi roda.
Boneka Barbie dengan kondisi autisme ini tersedia di toko daring Mattel dengan harga US$11,87 atau setara sekitar Rp200.000.
