Penyintas Bencana Banjir Alami Krisis Air Bersih, Begini Kata Dirut PDAM Aceh Utara
Jakarta, sustainlifetoday.com — Bencana banjir yang melanda Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh, meninggalkan dampak serius terhadap layanan dasar masyarakat, khususnya akses air bersih dan air siap minum. Sejumlah titik pengungsian dilaporkan mengalami krisis air, seiring rusaknya rumah warga, peralatan domestik, serta tercemarnya sumur-sumur yang sebelumnya menjadi sumber air utama.
Direktur Umum Perumda Tirta Pase (PDAM Aceh Utara), T. Hidayatuddin, menyampaikan bahwa pihaknya terus berupaya melakukan suplai air bersih dan air siap minum ke kamp-kamp pengungsian. Namun, kapasitas produksi dan distribusi saat ini belum berjalan optimal akibat kerusakan infrastruktur PDAM yang turut terdampak banjir.
“Rumah warga banyak yang hancur, sumur tidak bisa lagi dikonsumsi. Sementara infrastruktur kami juga mengalami kerusakan, baik di instalasi pengolahan maupun jaringan pipa distribusi,” ujar Hidayatuddin dalam keterangan resmi yang diterima sustainlifetoday.com
Infrastruktur PDAM Terdampak, Produksi Belum Pulih Sepenuhnya
Dari total 12 sumber air PDAM yang terdampak langsung banjir—dengan instalasi pengolahan air (IPA) terendam hingga tujuh hari—saat ini sembilan IPA telah kembali beroperasi. Sementara itu, IPA Langkahan mengalami kerusakan berat dan belum dapat difungsikan. Dua unit booster juga telah dinyatakan siap mendukung sistem distribusi.
Meski demikian, operasional PDAM masih sangat bergantung pada ketersediaan energi listrik dari PLN serta dukungan logistik tambahan. PDAM Tirta Pase saat ini memproduksi air bersih di instalasi IPA dan air siap minum di pabrik pengolahan yang berlokasi di Desa Reudeup, Kecamatan Lhoksukon.
Dalam kondisi darurat ini, PDAM Aceh Utara membuka ruang kolaborasi dengan NGO, lembaga kemanusiaan, dan donor untuk mempercepat pemulihan layanan air bersih. Sejumlah kebutuhan mendesak telah diidentifikasi guna menjaga kelangsungan produksi dan distribusi, antara lain:
- Bahan penjernih air (PAC/Poly Aluminium Chloride dan klorin), mengingat tingkat kekeruhan air sangat tinggi dengan komposisi sekitar 40 persen lumpur dan 60 persen air.
- Mobil tangki air bersih untuk menjangkau titik-titik pengungsian.
- Mobil tangki standar distribusi air siap minum untuk kebutuhan konsumsi langsung masyarakat terdampak.
“Kami berharap dukungan berbagai pihak agar IPA PDAM Tirta Pase dapat terus berproduksi, pelayanan air bersih tetap berjalan, dan distribusi air siap minum ke pengungsian bisa berkelanjutan,” kata Hidayatuddin.
Lebih lanjut, krisis air bersih pascabanjir dinilai berpotensi memperburuk kondisi kesehatan masyarakat jika tidak segera ditangani secara kolaboratif. Selain kebutuhan darurat, peristiwa ini juga menjadi pengingat pentingnya ketahanan infrastruktur air dalam menghadapi bencana hidrometeorologi yang semakin sering terjadi akibat perubahan iklim.
